Selasa, 04 April 2017

I Love Myself & Keep it Low

Dulu, waktu gue sangat belia dan lugu, saat gue baru merasa bisa menyetir, gue selalu senang dengan adrenalin untuk melaju kencang di jalan bebas hambatan. Rasanya begitu menyenangkan dan melegakan. Saat itu, harusnya gue berkarier menjadi pembalap. Namun, kemudian gue sadar, kemampuan gue menyetir belum sejago itu. Seharusnya kemampuan melaju kencang-kencang harus diimbangi dengan kemampuan menyetir yang mumpuni. Alhasil, gue harus rela ketika suatu hari dalam perjalanan pulang ke rumah—dengan kondisi sedikit melamun dan mengantuk—mobil gue menabrak sebuah motor dan juga pengendaranya. Kaca spion pecah, sang pengendara motor berdarah-darah di kaki dan pergelangan tangannya.
           
            Dulu, waktu gue sangat belia dan lugu, saat gue baru merasa bahwa mencintai itu sangat menyenangkan, gue selalu senang dengan antusiasme yang tinggi dan cinta yang meledak-ledak. Saat cinta tidak selalu berbalas, gue selalu percaya bahwa dengan gue berkorban sepenuh hati, suatu hari orang tersebut akan melihat betapa tulusnya gue dalam berjerih payah untuk memperjuangkan dia. Suatu hari hatinya akan tergerak untuk mencintai gue sebesar gue mencintai dia. Sampai suatu hari akhirnya gue “tertabrak” karena “melaju kencang-kencang” dalam perjalanan menuju hatinya.

            Merasa bahwa gue butuh menyembuhkan luka—karena dari saat gue belia dan lugu sampai gue merasa saat ini dewasa dan menuju usia sepertiga abad—gue meminta kepada atasan di kantor untuk mempercepat dinas bulanan ke Bangkok. Sejak tahun 2017, gue belum lagi menginjakkan diri ke kantor gue yang berpusat di negeri Gajah Putih itu. Selalu ada alasan dan rencana busuk di balik permohonan kepada bos gue tersebut. Gue akan mengambil cuti selama satu minggu untuk menyembuhkan luka di Bangkok.

            A long trip might do the trick. Begitu pikir gue saat itu. Ditemani sepupu dan pacarnya, gue menghabiskan liburan di Bangkok yang… ya gitu-gitu aja. Mabuk udah, belanja impulsif udah, makan sampai begah juga udah. Gue pikir, gue cuma sedikit bersenang-senang saja selama di sana. Karena di sudut mana pun gue melangkah, selalu ada wajahnya. Wajah orang yang membuat gue selalu melaju kencang-kencang di jalan menuju hatinya.

            Ketika gue pikir bahwa liburan ini nggak berhasil (yah, party-party lucu, make out with so many strangers, dan belanja barang yang bisa menuhin satu lemari baru cukup membuat gue happy, sih.), di samping jendela pesawat, gue melihat bagaimana sayap pesawat menyentuh lembut gumpalan awan tebal. Gue terpesona sampai nggak sadar bahwa gue sedang melamun. Entah dari mana asalnya, gue merasa sadar bahwa selama ini gue selalu merasa ada di atas garis wajar untuk melakukan sesuatu. Semua yang gue lakukan terlalu tinggi dan terlalu antusias. Nyatanya, semua yang diawali dengan kata “terlalu” nggak pernah baik hasilnya. I have to keep it low cause less is more.

            Seseorang yang pernah menyetir mobil dengan predikat “jago” pasti tahu pada saat yang tepat kapan ia harus melaju kencang dan lambat. Bukan membiarkan dirinya dikuasai adrenalin untuk melaju kencang setiap saat.

            Sama halnya seperti ini: kita nggak bisa mencintai orang lain, kalau kita belum bisa mencintai diri sendiri dan tahu kapan harus menguasai dirinya sendiri dikuasai adrenalin cinta yang meledak-ledak.

Tentu saja dengan mencintai orang lain terlalu dalam sampai kita lupa bahwa diri sendiri sudah lelah dan terluka adalah sebuah indikasi yang jelas bahwa kita belum bisa mencintai diri kita sendiri dengan baik.

Masih memandang gumpalan awan tebal yang terus menerus menyentuh sayap pesawat, gue menempelkan ujung-ujung jari ke jendela yang dingin. Gue tersenyum menyadari bahwa justru dalam perjalanan pulang, gue mendapatkan makna sesungguhnya untuk mencintai diri sendiri dan merendahkan kemampuan untuk melaju kencang yang mana pada akhirnya itu semua akan meledakkan diri gue sendiri.

Gue berjanji untuk mencintai diri gue sendiri. Sampai tulisan ini dipublikasikan, gue masih dalam proses untuk mencintai diri gue sendiri lebih dalam lagi, tapi nggak akan sampai “terlalu”. Cara paling sederhana untuk lebih menghargai diri ini adalah berusaha melupakan seseorang yang pernah kita cintai tersebut dan mulai tanamkan kepada diri sendiri bahwa kita, manusia, sangat berharga dan berhak dicintai oleh orang yang juga kita cintai, sama besarnya.

Gue telah berhenti meminta hati pada orang yang sudah jelas memberikan petunjuk di awal bahwa bukan wajah gue yang ingin dilihatnya setiap dia membuka mata di pagi hari.

Mencintai diri sendiri juga berarti bahwa kita harus berhenti memberi ekspektasi pada orang lain. Mencintai diri sendiri juga berarti bahwa lo akan menerima sebuah take and give yang seimbang dari orang yang lo cintai.

Mungkin seni mencintai diri sendiri ini adalah pelajaran yang baru dan menarik bagi gue di tahun ini. Menarik karena seharusnya gue dan lo dan semua manusia di dunia ini berhak dan wajib menjunjung harga diri setinggi-tingginya.

Jadi, teman-teman (dan kepada gue sendiri), ayo dong, berhentilah meminta hati pada orang lain yang tidak bisa menghargai diri lo.

Karena gue percaya pada suatu hari akan datang seseorang yang mau memberikan dunianya kepada lo, tanpa harus lo minta.

Keep it low!

Kamis, 16 Februari 2017

Cinta yang Sederhana di 2017

(by tumblr)
Tahun 2016 adalah tahun yang penuh kejutan buat gue. Ada banyak sekali hal yang membuat gue berpikir dan pada akhirnya mengucap syukur. Karier, kehidupan percintaan, rencana hidup ke depan, rasanya semua dirombak habis-habisan di tahun kemarin.

Katakanlah perjalanan karier gue mulus-mulus aja, malah cenderung dimudahkan oleh Tuhan untuk semakin naik. Rencana kehidupan ke depan juga udah sesuai track. Namun, kehidupan percintaan gue nggak jauh beda dengan jalanan di Cinere yang gompal dan penuh lubang,

Orang-orang tahu bahwa gue masuk ke dalam tipe I-don’t-give-a-shit person. Jadi kalau sesuatu nggak berjalan dengan semestinya, pilihannya cuma ada dua, mati-matian diperjuangkan atau baiknya ditinggalkan. Tentu pilihan kedua adalah pilihan dengan usaha yang lebih mudah dan terjangkau untuk dilakukan.

Berdasarkan tipe manusia yang memilih untuk hidup sesimpel mungkin, anehnya, gue pernah beberapa kali melakukan pilihan pertama: berjuang mati-matian untuk orang yang salah. Percayalah, itu amat sangat melelahkan.

Beberapa kali gue bangun di pagi hari dan yakin bahwa sesungguhnya orang yang gue perjuangkan akan membuka hatinya untuk gue, atau setidaknya hubungan kami akan menjadi lebih baik setelah tengkar-tangis-drama semalam. Kami pernah tinggal bersama selama tiga bulan dan gue pikir selama tiga bulan itu dia bisa melupakan mantannya, dan apa yang gue korbankan untuknya agar kami bisa tinggal bersama dapat membentuk kami menjadi pasangan yang kuat.

Nyatanya tidak. Cinta itu terlalu sederhana untuk hal yang rumit.

Kisah nyata yang gue alami itu membuat gue sadar bahwa cinta itu benar-benar sederhana. Anggaplah cinta itu adalah seorang manusia. Di dunia ini, cinta adalah seorang manusia yang karakternya paling mudah untuk dikenal dan layak mendapat reward sebagai the most doesn’t-give-a-shit person in universe.

Lantas kenapa cinta itu sederhana?
  •  Cinta tidak akan membuat lo terlihat bodoh dan menderita sendirian karena sejatinya dia sadar bahwa lo berjuang untuknya. Sekali lagi, Cinta itu nggak akan membuat lo terlihat bodoh dan dungu dan fool (ya, sama aja, sih, artinya. Biar keliatan dramatis aja).
  • Cinta nggak akan membuat lo sadar bahwa lo sedang berkorban. Ketika lo sudah merasa berkorban, secara otomatis lo akan berpikir bahwa you will get something in return. Dan, percayalah, itu amat sangat nggak baik.
  • Cinta itu sebuah hal yang murni, kok. Lo bisa menyadarinya meskipun nggak langsung. Mungkin berupa sebuah morning call setelah semalam lo kencan pertama kali dengan seseorang atau bahkan berminggu-minggu kemudian setelah kencan pertama, lo dan dia ketemu nggak sengaja di persimpangan jalan ketika lo sedang jalan-jalan sendirian di Lombok. Terus lo dan dia malah ketawa-ketawa dan memutuskan traveling bareng (oke, ini halu.)
  • Nggak pernah ada kata terlalu dalam kamus kehidupan Cinta. Di dalam hidupnya, Cinta itu nggak akan membuat lo fanatik atau pesimis. Cinta itu nggak akan membuat lo segitu tergila-gilanya. Ingat aja bahwa apapun yang “terlalu” di dunia ini nggak baik. Cinta itu pas banget. It suits perfectly in your life, like a slim fit jeans from Uniqlo.
  • Meskipun terlihat sederhana, Cinta nggak akan membuat lo tetap berada di zona nyaman, Lo dan Cinta akan bahu membahu untuk membangun pribadi yang lebih baik lagi. Sekarang untuk dilakukan akan terlihat menyebalkan karena mungkin lo akan mendengar dia teriak-teriak karena lo selalu taruh handuk lembap di atas kasur habis mandi; dia akan selalu ngingetin lo yang selalu nyetir ngebut-ngebut dan ngerem dadakan; dia akan ngingetin lo ngasih makan Coco, anjing dachshund peliharaan lo, padahal lo tau lo capek banget abis pulang kerja. Tapi, bukankah nanti lo bakal kangen diingetin yang baik-baik setelah dia nggak ada?
  • Cinta itu sederhana karena lo nggak perlu memaksa untuk menemukan dan ditemukan. Sah-sah aja unduh Tinder dan lain-lain, jodoh bisa ditemukan di mana aja. Temen gue yang mau menikah April nanti ketemu partnernya dari Tinder. Ada beberapa orang yang baru ketemu The One di umur 21, ada yang ketemu di umur 30, 50-an, jadi sah-sah aja kok. Kita punya cara dan waktu yang berbeda untuk saling menemukan.


Yang pasti Cinta itu nggak akan pernah membuat lo terluka dan menderita. Lo akan bertemu dengan seseorang yang akan membuat lo berarti untuknya dan membuat lo mencintai diri lo sendiri hingga penuh. Selamat menemukan cinta yang meski sederhana, membuat hidup lo luar biasa.

Selamat hari Valentine!

Minggu, 05 Februari 2017

Rencana Membangunkanmu

Dia datang menggangguku di pertemuan pertama kami. Tatapan matanya mengusikku sampai ke dalam manik mata. Senyumannya tidak perlu diragukan, ia menggunakannya sebagai senjata untuk berperang di meja makan kami malam ini. Semua gurauannya pun sama, aku tak perlu lagi berhati-hati bersikap dan menahan tawaku yang meledak.

Namanya terdiri dari tiga kata. Sementara orang-orang memanggilnya dengan nama tengah, aku lebih suka memanggilnya dengan nama depan. Nama pertamanya adalah sebuah kaum dari bangsa Yahudi. Nama keduanya adalah sebuah suku di Bali. Nama ketiga tentu saja marga keluarganya.

Dia membuatku tertawa. Cuma itu yang bisa aku tangkap dari hasil pertemuanku malam itu. Kurasa itu cukup untuk membuatku ingin bertemunya lagi di suatu hari. Mungkin ditemani secangkir teh hangat di sore yang dingin dan berhujan akhir-akhir ini, atau sambil bergelung menikmati tayangan kartun di hari Minggu pagi. 

Saat hendak berpisah, ia masuk ke dalam taksi sambil mengacungkan jempol kepadaku, aku tahu bahwa ia telah membuatku menurunkan jangkar hatiku sendiri. Aku tidak pernah ambil pusing kapan terakhir kali aku melihat kendaraan yang membawa teman kencanku hilang di ujung sana. Namun, lagi-lagi aku memastikan kendaraan yang ditumpanginya benar-benar hilang di belokan jalan. Rintik hujan membungkus malam itu dengan perpisahan yang tak ingin aku lewati. 

Ditemani hujan yang masih merintik, aku kemudian terpaku dan berpikir kalau saja besok pagi aku bisa melihatnya bangun di sampingku dan menyaksikan matanya membuka dan tersadar bahwa aku adalah orang pertama yang dilihatnya pagi itu.

Maka, di kepalaku yang penuh dengan cerita-cerita liar ini mulai punya sebuah rencana untuk membangunkannya esok pagi dan esoknya lagi.


1.
Esok pagi aku ingin membangunkannya dengan membuat kopi kesukaannya. Dengan uap yang masih mengepul dari cangkir panas, aku akan pelan-pelan meletakkannya di nakas di samping ranjangnya. Sesuai dugaanku, ia akan bangun menghirup aroma kopi yang menepuk lembut hidungnya. Matanya akan membuka begitu aku menyingkap tirai gorden. Ia akan tersenyum sambil menepuk lahan kosong di samping ranjangnya. Pelan-pelan aku akan merangkak naik ke atas ranjang sambil mengambil congkir kopi itu dan kuberikan kepadanya. Ia tidak langsung menghirup harum kopi miliknya, tapi ia akan menatap wajahku sesaat lalu langsung mengambil leherku dan membenamkan wajahnya di sana. Ia menghirup aromaku dulu. Ia malah melupakan kopi miliknya dan sibuk denganku pagi itu.

2.
Esok paginya lagi aku akan membiarkan kamar kami tetap gelap. Kamar kami akan selalu gelap seandainya aku tidak membuka tirai gorden. Cahaya hanya mampu mengintip dari samping gorden jendela kami. Aku akan mencium-cium wajahnya sampai ia sedikit menggerutu, membuka matanya, lalu tersenyum dan menarik kepalaku ke atas dadanya. Aku bisa mendengar jantungnya berdetak. Jantung milikku juga. Ada banyak suara indah di dunia ini: bunyi lonceng di akhir jam pelajaran kelas, suara terompet di Disney Land, suara kembang api meledak di akhir tahun, suara tawa bayi, suara lembut dari mulut ibu yang kau dengar saat kau sakit. Pagi itu aku sadar, ada satu suara indah di dunia ini yang tidak akan kuleawatkan setiap pagi: suara detak jantungnya.

3.
Pagi selanjutnya aku punya rencana untuk memasak sarapan inggris untuknya: sosis, telur mata sapi, krim keju, daging ayam, dan air jeruk hangat untuknya. Kami akan menghabiskan Minggu pagi untuk makan di atas ranjang sambil menonton film kartun sepanjang hari. Siangnya kami akan mandi berdua di bawah pancuran yang sama, memakai baju, dan menuju sebuah mall untuk makan siang dan mengobrol tentang apapun yang menjadi kesibukan kami hari ini. Kami akan menghindari kegiatan membosankan seperti belanja bulanan, menonton film di bioskop, atau membaca buku. Mari singkirkan hal tersebut di saat kami sedang bosan. Hari ini kami akan melaju menuju sebuah kota dengan mengendarai mobil. Kami tidak harus tahu ke mana kami pergi, entah itu menuju laut atau gunung, yang pasti kami hanya ingin lari sejenak dan menghabiskan akhir pekan ini dengan kejutan yang menyenangkan.

4.
Aku akan terbangun ketika malam hari di kota yang aku tidak pernah tahu. Ia tidak ada di belakang setir. Ketika aku keluar dari dalam mobil, suara ombak akan menyapa. Ia telah membuat api unggun di pantai. Di sampingnya ia telah menyiapkan sebuah kantung tidur berukuran besar untuk kami berdua bergelung di dalamnya. Matanya masih menatap lautan sementara angin darat menerbangkan anak-anak rambutnya yang sulit sekali diatur. Aku akan mengambil tempat untuk duduk di sampingnya, ikut menatap lautan, ditemani bunga-bunga api yang terbang ke udara dari api unggun di depan kami.

“Apa yang kamu tunggu selama ini?” tanyanya, sambil terus menatap ombak yang bergulung.

“Menunggu besok pagi bersama kamu,” jawabku.

Dia menyunggingkan senyum.

Kami merebahkan badan di dalam kantung tidur sambil memandang langit malam yang jernih dan bertabur bintang. Tangan kami terangkat ke udara berusaha menggapai rasi-rasi bintang di atas sana.

“Rasi bintang di atas sana,” aku menunjuk, “Nggak ada yang kolinear seperti yang kamu tulis di buku kamu.”

Ia hanya menatapku terus menerus.

“Apa?” tanyaku.

Ia hanya menggeleng sambil tersenyum. Lalu berbisik kepadaku, “Sendiri kita cuma tetesan air, berdua kita adalah lautan.” Kemudian ia mencium dahiku dan membiarkan badanku rebah di dadanya. Lagi, aku mendengar suara paling merdu dalam hidupku. Malam ini, aku tenggelam dalam riuh detak jantungnya.

* * *

5.
Aku dibangunkan suara burung camar, bunyi ombak bergulung yang lebih besar dari semalam, serta cahaya matahari keemasan begitu aku membuka mata. Ia masih merangkulku. Dengan mata terpejam, ia tersenyum, seakan tahu bahwa aku sudah bangun.

“Jangan bangun dulu. Aku masih ingin tidur di samping kamu.”

Aku memejamkan mataku kembali dan merangkulnya lebih erat. Ditemani angin laut pagi ini, aku berbisik di telinganya, “Selamat pagi.”

Rabu, 01 Februari 2017

Punya Pacar, Harus?

Halo, generasi milenials! Apa kabar? Masih sibuk berkarya atau sibuk galau? 

Udah lama kayaknya gue nggak nulis tentang buah pikiran, ciye buah pikiran.

Suatu hari setelah pulang dari studio DJ Winky di Kemang untuk proyek shooting video baru di Youtube, Ibe bertanya kepada gue saat gue sedang menyetir. Pertanyaannya begini, “Kak, lo bisa bertahan hidup nggak tanpa pacar?”

Gue jawab dengan lantang: bisa banget!

“Kenapa, Kak?”

Lalu gue jelaskan kira-kira begini, tanpa pacar mungkin hidup gue akan jauh lebih mudah, dalam artian gue nggak perlu mikir dia sedang apa dan di mana, memastikan dia udah makan atau belum, lala lili segala macam. Saat ini yang harus gue bahagiakan cuma orangtua gue aja. 

Ketika gue sudah punya pacar, gue punya tanggung jawab untuk ngajak dia bareng-bareng berjalan menjadi pribadi yang lebih baik daripada sebelum dia sama gue. Vice versa. Gue juga berharap dengan bersamanya, gue akan jadi pribadi yang jauh lebih baik lagi. Buat gue itu udah harga mati saat memutuskan untuk berhubungan.

Setiap berpacaran gue selalu berusaha membuat hubungan itu ada tujuannya, ada hal yang baik dan berguna untuk kami berdua. Bahan bakarnya rasa cinta yang kami berdua punya. Klise, tapi ya memang itu kenyataannya. Gue nggak melihat tujuan pacaran yang lain.

Ibe lalu bertanya lagi begini, “Kenapa, Kak, lo bisa suka sama seseorang?”

Ibe ini emang agak suka buat pertanyaan-pertanyaan dalam yang kalau gue jawab bisa sampai subuh.

Buat gue kira-kira begini, gue sendiri nggak punya tipe khusus kenapa gue suka sama seseorang. Ibaratnya kalau gue suka sama seseorang karena dia rupawan, tajir, atau pintar, maka suatu hari kalau dia ketabrak sama kendaraan di jalan lalu mukanya hancur, amnesia, dan uangnya habis buat bayar rumah sakit, selesai nggak tuh kira-kira rasa cinta yang gue bangun sebagai alasan pertama gue suka sama dia? 

Alasan kenapa gue cinta sama seseorang sederhana aja: gue nggak tahu kenapa gue mau sejajar seiringan berjalan sama dia.

Musti diingat nih, ya, buat anak-anak milenial semuanya (buat gue juga berarti), memiliki hubungan itu udah sepaket sama rasa sedih dan sakit yang mungkin akan terjadi selama lo berpacaran. Ga ada sih hubungan yang baik-baik aja menurut gue, pasti ada aja goresannya. 

Gini, lo dari kecil sampai lo besar sama keluarga lo pasti nggak mungkin kan nggak ada argumen sama bokap, nyokap, kakak, dan adik? Pasti ada, karena lo nggak seratus persen punya sifat dan karakter yang sama kayak mereka.

Itu baru keluarga lo yang katanya dihubungkan karena darah dan daging yang sama. Nah, ini, pacaran. Lo baru kenal berapa lama? Setahun? Dua tahun? Atau baru kemarin dari Tinder, dan elo pada berharap punya jalinan kasih antara insan manusia dalam berpacaran yang baik-baik aja? Paling banter lo bisa  nggak beda pendapat berapa lama coba?

Jadi balik lagi ke pertanyaan awal kira-kira harus nggak punya pacar?

Jawabannya: harus.

Gue memang bisa bertahan hidup tanpa seseorang di samping gue. Gue bisa ngebayangin di sisa hidup gue, gue cuma harus bahagiain bokap nyokap aja, menjadi penulis dan pekerja kantoran yang baik. Namun, nyatanya gue butuh seseorang untuk menjadi teman hidup yang sangat istimewa. Gue butuh dia untuk membuat gue menjadi manusia yang lebih baik, tentunya dengan value yang dia miliki. Gue pun dengan value yang gue miliki, gue butuh untuk membangun seseorang menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Malah, melihatnya menjadi lebih baik akan menjadi kesenangan buat gue. Gue pengen gue dan partner gue (pacar masa depan, halo!) menjadi pasangan yang kuat nantinya. 

Lebih jauh lagi, gue butuh teman hidup yang setiap hari mau gue lihat wajahnya setiap gue bangun tidur di pagi hari, menyiapkannya sarapan, berkelana ke tempat baru yang belum pernah gue temui, hadir di hari-hari besar dalam hidupnya, bahkan ada di sana untuk membantunya saat kesulitan. Gue mau melakukan hal itu bersama orang yang gue cintai.

Ya, lo harus punya pacar, untuk membuat hidup lo merasa penuh.




Jumat, 22 April 2016

Wawancara Proses Kreatif Menulis Diego Christian

Haloooo.....

Udah lama banget nggak update blog ini. Sekarang gue lagi di Thailand untuk kerjaan for good di sini. Update kabar sejenak ya, buku keempat gue, Kepada Gema, udah terbit bulan Februari lalu, bertepatan dengan hari Valentine. Puji Tuhan, sejauh ini respons pembaca positif. Gue nggak sungkan untuk menerima masukan ya.

Update berikutnya, gue baru aja resign dari Lion and Lion. Sekarang gue bekerja di Thailand untuk sebuah perusahaan digital startup gitu. Seru deh, kapan-kapan gue ceritain tentang kantor gue ini. Dan yes, gue juga kepikiran untuk bikin review traveling ala-ala gitu deh. Gue akan mulai dengan ngereview jalan-jalan cilik gue di sekitaran Bangkok. 

Untuk kali ini, gue mau publikasiin wawancara gue dengan Hana, salah satu anggota Komunitas Logika Rasa, sebuah komunitas menulis yang lagi hits di kalangan anak muda. Mereka keren banget sih menurut gue. Didirikan oleh Alldo Fellix Januardy dan Muthia Zahra Ferani, komunitas ini udah diundnag di ASEAN Literary Festival 2015 dan 2016.

Semoga hasil wawancara ini bisa membantu teman-teman yang baru menulis yah! :)



Halo Bang Diego! Saya Hana B. Adiningsih, mahasiswa semester 4 Fakultas Psikologi UI. Dari lembar wawancara ini, informasi yang Bang Diego berikan hanya akan digunakan untuk kepentingan tugas Psikologi Pendidikan Karir saja. Berikut pertanyaan-pertanyaannya:

1.      Sejak kapan Bang Diego menulis? Apa yang membuat Abang tertarik untuk jadi penulis?

Kalau menulis lucu-lucuan, aku sudah menulis diary dari kelas 4 SD. Aku mulai menulis serius sejak kelas 5 SD. Waktu itu aku mulai menulis puisi. SMP, aku mulai menulis cerita pendek. Saat itu aku punya mentor namanya Ibu Ani. Setelah saat itu aku berpikir betapa pentingnya punya mentor dalam menulis. Waktu SMP, aku lapar banget dalam membaca dan buku yang kubaca saat itu adalah buku-bukunya Chairul Anwar dan Sapardi Djoko Damono.



2.      Bagaimana perjuangan Abang  sebelum akhirnya menerbitkan novel pertama?

Wow, itu salah satu perjuangan yang cukup berat dalam hidup aku. Buku pertama aku, Percaya, ditolak sama beberapa penerbit sebelum akhirnya diterbitkan Gagas Media. Ada satu orang editor terkenal dari Gagas Media namanya Christian Simamora, tapi semua orang manggil beliau Abang. Abang berjasa banget dalam karier menulisku. Waktu itu karena sudah pasrah karena ditolak beberapa penerbit, aku nyamperin Abang setelah seminar menulis di FIB UI. Aku datang dengan jilidan novel, biodata penulis, sasaran pembaca, dan kompetitor penulis. Seminggu kemudian aku dipanggil Abang kalau novelku belum layak terbit, aku nangis karena aku sudah mau nyerah rasanya dan bukan penolakan lagi yang mau aku dengar. Abang terus tanya kenapa aku mau tulis, lalu sambil nangis aku bilang untuk menyenangkan Mama Papa. Jadilah sepanjang sore itu aku belajar menulis plot serta kerangka cerita. Aku disuruh baca 40 novel yang sesuai dengan genre aku. Baru 1,5 tahun kemudian, novelku diterbitkan oleh penerbit Gagas Media. J



3.      Sebagai lulusan Sastra Indonesia UI, apakah bidang studi tersebut membantu atau justru menghambat dalam mencapai tujuan sebagai penulis?

Sangat. Aku jadi bisa mengklasifikasikan novel-novel bagus yang perlu aku baca. J



4.      Apa saja hal yang Bang Diego lakukan untuk meningkatkan kemampuan menulis?

Rajin membaca banyak buku bagus, ketemu sama penulis-penulis bagus untuk berbagi ilmu, rajin menulis, dan rajin sharing soal menulis kepada siapa pun: penulis baru dan penulis lama.



5.      Ceritakan bagaimana proses penulisan novel menurut pengalaman Anda (Contoh: menentukan premis dahulu, dst.)

Aku selalu bikin plot dan kerangkanya dulu, biodata tokoh, ujungnya akan seperti apa, baca banyak buku yang terkait isu tersebut, rajin-rajin riset, dan biasanya aku suka tinggal lama untuk berpikir banyak hal secara matang untuk buku tersebut.



6.      Pernahkah Abang merasa kesulitan dalam menulis? Apa yang membuat Abang konsisten menulis hingga mampu menyelesaikan 4 buku sampai saat ini?

Pernah dong, tapi entah kenapa aku harus menyelesaikannya. Sama kayak jatuh cinta, ada saja kendalanya, tapi semuanya jadi mudah karena kita cinta sama sesuatu itu. Proses nggak pernah menyerah sama jatuh cinta akan sesuatu itu yang kita sebut passion.



7.      Apakah ada dukungan keluarga, teman, komunitas, dsb. dalam hal menulis? Seperti apa bentuk dukungannya?

Pasti dong. Aku selalu menyebut mereka dengan nama Best Support System. Tanpa mereka yang percaya akan kemampuan aku kalau aku bisa, mungkin aku bukan Diego yang sekarang. Dukungan terbesar dalam bentuk doa. Sisanya aku didukung dengan mereka yang telah membeli buku aku, datang ke launching, kasih saran dan masukan setelah mereka baca novel aku, dsb.



8.      Apa yang Anda sukai dari pekerjaan menulis? Mengapa?

Aku nggak tahu kenapa aku suka. Kayak suka sama seseorang saja. Harusnya kita nggak boleh tahu kenapa kita suka. Kalau kamu suka sama seorang cowok karena dia ganteng, pintar, atau kaya. Suatu hari dia nggak lagi cakep, kaya, atau pintar, maka selesai juga kan rasa suka kamu sama dia. Buat aku menulis nggak perlu alasan kenapa aku suka menulis. Sama seperti jatuh cinta.



9.      Apa yang Anda tidak sukai (hambatan) dari pekerjaan menulis? Mengapa?

Ini sebenarnya cuma mitos yang banyak penulis buat sendiri, writer’s block. WB ini adalah kondisi di mana kita benar-benar stuck untuk tulis apa lagi. WB ini sebenarnya bisa kita lawan kok.



10.  Apa tindakan Anda untuk menghadapi hal-hal yang Anda tidak sukai tadi?

Seimbangkan diri antara bekerja, menulis, bersosialisasi, dan bersenang-senang.



11.  Saya lihat di laman Goodreads, Abang pernah menjadi salah satu dari 9 Penulis Pendatang Baru Terbaik menurut Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan menjadi juara pertama NouraBooks Academy, bagaimana kisahnya Abang bisa meraih penghargaan tersebut?

Untuk penghargaan dari Kemenparekraf itu kebetulan waktu itu ada acara yang bernama Kompetisi Tulis Nusantara yang diadakan oleh Kemenparekraf. Tiap penerbit harus mengirim beberapa novel yang potensial untuk diikutsertakan dalam penghargaan tersebut. Kebetulan aku yang mewakili penerbitku saat itu, nggak aku sangka aku meraih penghargaan sebagai 9 Penulis Pendatang Baru Terbaik.

Untuk juara satu Mizan, aku kebetulan iseng ikutan bareng Aditia Yudis ikut karantina menulis novel dari anak penerbit Mizan yang baru, Noura Books. Jadi kami harus menulis novel selama 30 hari dan hanya juara 1 – 3 yang novelnya diterbitkan. Beruntungnya, aku juara 1 saat itu, jadi diterbitkan. Hehe.


 
12.  Menurut Abang, kompetensi apa saja yang harus dimiliki untuk jadi seorang penulis yang baik?

Kemampuan stalking yang baik hehehe (jadi mata-mata dan pemerhati yang baik). Rajin membaca buku dan perbanyak diri dengan baca hal yang kita nggak pernah tahu sebelumnya (baca koran will be a good idea). J



13.  Selain menjadi penulis, apa pekerjaan Abang? Mengapa Abang memilih dua (atau lebih) pekerjaan tersebut?

By day, I am a PR Manager. By night, I’m a novel writer. Karena aku merasa aku seorang ambivert. Aku bisa membagi diri menjadi introvert dan ekstrovert di saat yang hampir bersamaan. Saat siang, aku jadi ekstrovert, saat malam aku jadi introvert. Masalahnya adalah, aku suka jadi dua pribadi tersebut. Aku suka bersosialisasi dan bertemu orang, di lain sisi aku suka duduk sendiri dan memikirkan jalan hidup orang lain di dalam tulisan.

Moto hidup aku adalah: You are same today as you’ll be in five years except for two things: the books you read and the people you meet. J



14.  Bagaimana cara Abang menyeimbangkan dua pekerjaan tersebut?

Untuk sesuatu yang kamu cinta, eventhough you don’t have time, you will make time.



15.  Apa cita-cita Bang Diego ke depannya terkait bidang kepenulisan?
Terkait bidang penulisan, aku mau menulis buku sebanyak yang aku bisa. Selain itu, aku mau punya perpustakaan sendiri. J

Terima kasih banyak Bang Diego atas kebaikannya, semoga sukses selalu J