Kamis, 07 Juli 2011

UNO


Janji kita, siapa pun yang kalah dalam permainan ini, ia harus mencium sang pemenang di tempat yang diinginkan sesuka hatinya. Setelah menimbang sejenak, bibirku melengkungkan senyum.

"Oke, Deal!" kataku kepadamu dari ujung ranjang.

Aku mengambil tumpukan kartu yang berserak di tengah kita, memulai gerakan mengocok kartu, lalu membaginya sama rata sesuai aturan konvensional yang berlaku di seluruh dunia: tujuh kartu untukmu dan tujuh kartu untukku.

Aku mengangkat kartu-kartu yang menjadi bagianku lalu membariskannya di antara jari-jemariku sebelum kulihat semua isinya. Kau menaikkan salah satu sudut bibirmu ke atas setelah melihat kartu-kartu milikmu sendiri berjejer di antara jari-jarimu, senyum nakal yang selalu kaubuat jika berhasil membuatku berteriak mengaduh manja terhadapmu. Dasar nakal! Umpatku dalam hati.

"Kartunya bagus, makasih kocokannya, ya!?" katamu sambil menganggukkan kepalamu sekali ke arahku, "Punya kamu bagus, nggak?"

Aku mengecutkan bibirku sambil menggeleng. Kau tertawa cekikan setelahnya.
Kau mengambil satu buah kartu di tengah-tengah kita sebagai kartu penunjuk, kartu paling atas yang kau ambil. Kartunya bernomor 6 warna kuning. Kemudian kau meletakkan kartu berwarna kuning bergambar sebuah lingkaran dengan garis miring di tengahnya. Lambang stop. Aku mengangkat bahu, "Jalan lagi," kataku.

Kau tersenyum semakin nakal setelah melihatku mulai tidak senang pada permainan ini. Hei, ini masih awal dan kau mulai menyebalkan! Teriakku dalam hati.

"Oh iya, pasti, dong!" katamu sambil menjatuhkan kartu berwarna kuning dan bergambar dua buah panah yang saling menunjuk. Lambang reverse. Putar balik.

Aku menggigit bibirku, menyipitkan mata, dan melihat wajahmu yang tersenyum lebih dari sekadar nakal. Aku menggelengkan kepalaku sekali. Permainan ini mulai menguji kesabaranku. Tapi, bukannya aku harus senang karena siapa yang kalah harus mencium yang menang. Bermain cinta setelah bermain kartu? Hmm... lakukan!

"Jalan... lagi..." kataku pelan-pelan.

Kau tidak bersuara. Kau menjatuhkan sebuah kartu berwarna hitam dengan mantap ke atas tiga lembar kartu yang berserakan di tengah kita. Kartu berwarna hitam dengan tanda +4 di pinggir kanannya. Aku hanya termangu lalu melihat wajahnya. Aku mengangkat kedua alisku padamu.

"Ya ambil, lah..." katamu sambil menganggukkan kepala dengan wajah menyebalkan.

Aku menggeleng berkali-kali lalu mengambil empat lembar kartu sambil mendenguskan napas. Tahukah kau bahwa permainan ini mulai menyebalkan? Menyebalkan yang menyenangkan karena ada kau sebagai lawanku di sini. Menyenangkan karena dengan adanya kau di sini aku tidak lagi punya alasan untuk merasa kesepian. Ini menyebalkan yang paling menyenangkan! Kau harus tahu itu, Sayang.

Kartumu tinggal tersisa empat, sedangkan kartuku beranak pinak menjadi sebelas lembar yang kini berjejer rapi di jari-jemariku.

***

"Uno games!" teriakmu ketika kartumu telah habis dari genggaman, sedangkan aku, kartuku masih lengkap: sebelas lembar dalam genggaman. Bahkan kau tidak mengizinkanku untuk mengurangi satu lembar kartu pun dari tanganku.

Bermain UNO berarti bermain dengan kesempatan, katamu. Jika ingin menang dalam permainan ini, kita harus pintar-pintar menggunakan kesempatan, katamu lagi. Sekarang aku jadi mengerti, bagaimana aku bisa memenangkan permainan ini jika kau tidak memberikan padaku satu kali saja kesempatan.

Tapi tidak apa-apa, kupikir selagi hukumannya adalah menciummu, tidak apa-apa aku tidak mempunyai kesempatan untuk mengalahkanmu dalam permainan ini. Toh, aku masih memiliki kesempatan untuk menciummu, untuk mencintaimu. Aku membuang sebelas kartuku di tengah-tengah kita, lalu aku tersenyum sambil merangkak menuju tubuhmu. Kau tersenyum lebih nakal dari sebelumnya dan itu membuatku semakin cepat ingin menciummu. Lalu aku berhasil mencapai keningmu.

Aku berhenti bergerak ketika bibirku berada di puncak kepalamu. Rasanya dingin, sepi, getir. Lalu badanku bergetar, kepalamu mulai basah dengan air mata yang jatuh dari mataku. Kau kaku, lalu pelan. Menghilang. Aku mencoba memelukmu, tapi kau tidak ada lagi. Yang tersisa hanya serakan kartu-kartu di depanku. Badanku semakin bergetar, tangisku mulai meriak sementara kau benar-benar tidak ada lagi di depanku. Kuacak tumpukan kartu dengan kedua kakiku sehingga beberapa lembarnya terkoyak. Tubuhmu benar-benar lenyap dari pandanganku dan luka hatiku semakin menganga. Malam mulai beranjak tua tapi aku masih duduk di tepian ranjang sambil menangis.

Sayang, bahkan kau tidak memberikan kesempatan padaku bahwa kaulah satu-satunya. Lebih lagi, kau tidak memberiku kesempatan bahwa aku ada. Bahkan untuk menunjukkan padamu bahwa aku mampu menjadi yang terbaik. Untuk mencintaimu.

Lagi-lagi aku bermain UNO sendirian. Bersama bayanganmu. Dan juga tembok di depanku. Ibuku hanya mampu melihat dari depan kamar rumah sakit yang kini kutempati. Aku tidak mengerti mengapa beliau selalu menangis ketika melihatku menangis. Lebih lagi, aku tidak tahu kenapa aku ditempatkan dalam kamar isolasi ini.

Jumat, 17 Juni 2011

Resensi Buku: Writer VS Editor


Hidup Nuna benar-benar berubah ketika naskah yang selama ini dipikirnya telah sia-sia dikirimkan ke sebuah penerbit mendapat jawaban bahagia yang diinginkan oleh semua penulis di muka bumi: naskahnya diterima oleh sebuah penerbit untuk diterbitkan. Bagi Nuna yang seorang pramuniaga biasa di sebuah toko swalayan di kota Bogor adalah hal yang luar biasa mendapatkan bahwa pada akhirnya ia akan menjadi seorang penulis. Tapi sayangnya tidak, semuanya tidak berakhir bahagia saat itu melainkan segalanya baru dimulai oleh seorang penulis pemula sekaliber Nuna.

Sang Editor, Rengga, begitu kesal kepada Nuna karena menganggap dirinya sok karena tidak pernah mau mengangkat telepon darinya untuk mengurus naskahnya agar segera naik cetak. Kesalahpahaman itu mengakibatkan saling dendam yang kemudian (tentu saja) berubah menjadi perasaan cinta dan (tentu saja) dengan segala lika-likunya. Perasaan mereka berkali-kali diuji oleh serangkaian peristiwa yang membuat penulis dan editor ini saling terlibat konflik yang dijalin oleh penulis Writer VS Editor ini.

Ria N. Badaria adalah penulis yang layak diperhitungkan karena novel sebelumnya Fortunata mendapat penghargaan Khatulistiwa Literary Award kategori penulis muda berbakat tahun 2009 (Ya Tuhan, saya mau banget dapet penghargaan ini nanti. Amin). Gaya bahasa dan jalinan cerita di dalamnya cukup baik, meskipun ada bagian yang menurut saya kurang logis. Beberapa di antaranya adalah kurangnya rasa bahagia pada Nuna ketika menyadari novelnya akan diterbitkan oleh GlobalBooks, kemudian terdapat (lumayan) banyak konflik yang merangkai Nuna dengan Rengga. Kembalinya Marsya pada Rengga di akhir cerita menurut saya membuat cerita berjalan semakin lambat dan membuat pembaca mulai bertanya, "Ini cerita kapan selesainya?"

Karakter yang cukup kuat, plot yang rapi, adegan yang terasa alami, dan kejutan di beberapa bagian sebelum ending adalah kekuatan novel ini. Ria mampu menceritakan hampir semua adegan di dalamnya terasa real dan alami. Masalah gaya tulisan jangan ditanya lagi, Ria benar-benar matang menggarap novel ini

I give 3 out of 5 stars :)

Sumber Pustaka:
Badaria, N. Ria. 2011. Writer VS Editor. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Minggu, 05 Juni 2011

Family Tree





Nenek (as known as Ompung Boru)

Nenek saya, Nellida Purba, atau yang biasa saya panggil Ompung (baca: Opung), tinggal nggak begitu jauh dari rumah saya. Hanya dipisahkan oleh satu kompleks. Nenek saya ini masih segar bugar di usianya yang ke-80 tahun. Penyayang binatang dan suka nonton TV. Di rumahnya, Nenek saya punya enam ekor anjing. Nenek saya tinggal bersama seorang Mbak yang udah mengabdi puluhan tahun, namanya Mbak Mun (sayang fotonya nggak saya masukin di post kali ini).

Oh ya, di adat Batak keluarga saya (saya sih ga tau yah kalo adat keluarga Batak yang lain kayak gimana), yang muda itu nggak boleh menyebut yang tua dengan nama langsung meskipun kita udah pake nama panggilan. Jadi, ga boleh tuh kalo saya manggil Opung saya: Opung Nellida, bisa-bisa saya dibakar. Demi kesopanan, saya diajarin sama orangtua saya waktu kecil harus menyebut nama Opung-opung itu sesuai nama tempat mereka tinggal. Maka, saya manggil Nenek kandung saya dengan panggilan Opung Medan, karena sebelumnya beliau tinggal di Medan. Saya juga punya banyak opung yang lain karena adat Batak itu punya Tarombo yang kalo ketemu orang Batak di pinggir jalan pun bisa-bisa jadi saudara. Opung saya punya banyak adik, cara manggilnya? Ya panggil sesuai tempat mereka tinggal, ada Opung Riau, Opung Slipi, Opung Pejaten, Opung Kelapa Gading, Opung Bekasi, Opung depok, Opung Batam, Opung Bandung, dan opung-opung lainnya yang tersebar di seluruh nusantara ;)





Papa

Papa saya orang Batak asli, artinya Ayah dan Ibu dari Papa saya berarti sama-sama Batak. Sedangkan ibu saya murni Jawa, karena kedua eyang saya juga murni Jawa. Jadilah saya dan kakak bukan Batak atau Jawa murni, kita campuran Batak dan Jawa.

Setelah menyelesaikan pendidikan teologinya, Papa saya sebenarnya bisa jadi Evangelis (satu kasta di bawah pendeta) dan bisa pimpin misa di gereja, tapi entah kenapa Papa nggak mau ngelanjutin. Sekarang Papa menyebut dirinya sebagai full time prayer & worshipper. Yap! Papa saya religious person banget. Sekarang Papa aktif jadi breeder, ikut di partai politik (passion Papa di hukum, sama kayak Mama), penanam bonsai, dan hobi baca Alkitab.





Mama

Kalo Papa kerja di rumah, Mama tuh orangnya nggak bisa diem, harus banget keluar rumah setiap hari. Makanya kalo belum pensiun Mama nggak akan berhenti kerja. Mama seneng banget kerja di kantor karena kerjaannya (passion-nya di hukum) dan Mama nggak bisa lepas dari temen-temennya. Does she in the gank? Yap! Hahahahahaha, tua-tua gini Mama punya gank main di kantornya. Hobinya? MAKAN! Hahahahaha. Makanya kalau mau nanya tempat makan enak di Jakarta silakan tanya pada Mama saya, jamin akurat! Mama saya hobinya ngoleksi tas dan tupperware. Selain itu, Mama hobi banget ngomong, apa aja diomongin. Tapi biar cerewet, Mama saya sabarnya luar biasa, dan yang paling penting Mama tuh kalo ngadepin masalah lempeng aja gitu mukanya, cuek banget sama hal negatif. Itu yang saya banggain dari Mama :)

Kakak

Tadaaaaa... Ini dia si Fresh Graduate Girl kita, kakak saya Desire Amelia. Firstly, she has no passion in law apalagi sastra. So what is her passion? MONEY! Nyahahahaha, yup kakak saya suka banget ngitung, dia dari dulu udah ngincer jurusan ekonomi sari awal SMA. Sekarang baru aja lulus, jadi lulusan terbaik + cum laude + Presiden BEM waktu kuliah + udah kerja (bahkan sebelum dapet gelar sarjananya, aih gila!)

Sekarang Kakak saya kerja sebagai auditor (saya jadi editor dong nanti, Amin.) di sebuah kantor yang nama kantornya saya lupa di daerah Kebayoran Baru. Dari kerjaannya (karena auditor kerjanya keliling daerah) dia udah traveling sambil kerja ke banyak tempat, aih gila gila gila seru banget, sih! Yah, worthed lah ya mengingat dia udah kerja keras banget sampe bisa cum laude. Kakak saya juga penyayang binatang dan penyayang pacar (selamat juga yah yang pacarannya udah 3 tahun --> saya sedih)

Saya

Nyahahahahahahaha saya, Diego Christian, sekarang kuliah di Sastra Indonesia, UI, semester 4. On my track to be a novelist (sekarang lagi revisi, doakan saya ya #alaBentengTakeshi), penyayang binatang, and soon to be a vegetarian.

I have a super role model named Dewi Lestari. Saya suka banget baca buku dan nulis. Sebagai manusia pada umumnya ya, saya juga punya kelebihan dan kekurangan. Kelebihan saya tuh saya berani, hehehe. Berani apa, nih? Berani ngadepin apa pun: hantu, tempat gelap, ketinggian, kegagalan, bahkan patah hati (sumpah yang terakhir curhat banget!) Kekurangannya? Nah, saya itu super-ultra-sensitif. Saya sendiri saking sensitifnya kalo nonton film yang menyentuh suka nggak sadar tiba-tiba ada air mata turun, etapi sumpah deh itu nggak diatur, kayak apa, ya? Kayak cara kerja jantung dan lambung gitu, nggak bisa kita atur. Bingung? Saya sendiri aja bingung.

Minggu, 22 Mei 2011

Lemari


Setiap orang mempunyai satu lemari, bahkan lebih. Demikian pula dengan kau, memiliki lemari di kamarmu sendiri. Tapi, siapa pernah berpikir manusia yang satu terhadap manusia lainnya apakah penting jika mereka tidak memiliki lemari? Ah, biarlah jadi urusannya masing-masing. Siapa yang peduli jika kau atau orang lain hendak meletakkan barang-barang mereka di mana. Di atas kasur mungkin, digantung di daun pintu, di atas lantai paviliun milik karyawan yang baru bekerja, di atas meja belajar di dalam kamar kosan mahasiswa, atau bahkan seperti kau yang memilih meletakkan barang-barangmu di dalam lemari.

Sesungguhnya manusia lebih memikirkan agar bagaimana kamar mereka terlihat bersih, bukan lemarinya. Seperti halnya kau yang membersihkan kamarmu saban Sabtu pagi sebelum kau pergi lagi meninggalkan kamar yang telah bersih ini. Sementara untuk lemari, cukup kau lemparkan kamper ke sembarang arah di dalam lemari itu agar dia tidak lagi lembab. Lemari tidak pernah berdebu, katamu, sehingga kau tidak pernah pusing sendiri untuk rajin-rajin membersihkannya.

Kau memiliki satu buah lemari di dalam kamarmu yang bagus itu. Sama halnya seperti kau memiliki aku untuk kau letakkan bermacam pakaian dan beberapa benda berharga di dalamnya. Kau menaruh hatimu dengan sembarang ke dalamku, kau tinggalkan sesaat, kemudian kau ambil lagi sesukamu. Setelah kau taruh hatimu di dalamku, kau merasa aman karenanya dan tidak pernah sekalipun kau menengoknya untuk sekadar mengawasi apakah hatimu hilang diambil pencuri atau tidak.

Yang kau berikan kepadaku adalah kepercayaan, kepercayaan rasa aman barang-barangmu yang berharga di dalamku. Tapi bagaimana aku bisa percaya kepadamu yang setiap pagi keluar dari ruangan, yang terlanjur menjadi dunia kecil bagiku ini, dan kembali lagi pada malam hari. Bagaimana bisa aku menghilangkan pikiran bahwa kau mungkin keluar melihat lemari yang lain kemudian kapan saja dengan kuasamu kau akan membuangku dari ruangan ini dan kau ganti diriku dengan lemari yang baru. Bagaimana aku bisa berkuasa, Kekasihku?

Kau selalu pergi, kita hanya berada dalam ruangan yang sama hanya jika kau butuh waktu dan tempat untuk merebahkan badanmu. Kadang aku ikut tertidur bersamamu, kadang pula aku terjaga memperhatikan wajahmu saat kau terlelap. Di saat seperti itu entah aku merasa bahagia atau semakin terluka melihat wajahmu di hadapanku sepanjang malam. Lalu pagi hari kembali datang menyambut, aku seringkali tak sempat melihatmu ketika kau terbangun dijemput kembali oleh alam. Sisa kantuk menatapmu semalaman telah mengaturku agar aku hanya mampu melihat pintu tertutup di belakang badanmu yang telah berseragam pakaian kerja. Sekali lagi kau menikmati duniamu di luar sana, sedangkan aku kembali terbangun dengan perasaan takut dan sepi kembali merayapi seluruh jiwaku.

Aku adalah lemari yang kau letakkan di dalam ruangan yang kau ciptakan sendiri, tapi bukan ruangan khusus berdua untukku dan kau. Aku adalah lemari yang bisa kau letakkan apapun yang ingin kau letakkan di dalamnya, termasuk jiwamu meski untuk sesaat. Aku adalah lemari yang kau tempatkan sesukamu di sudut-sudut pikiranmu yang kau inginkan. Aku adalah lemari yang orang lain tidak pernah tahu apakah kau memiliki aku di dalam hidupmu. Lalu aku adalah lemari, di dalamnya kau ciptakan sebuah laci kecil tempat kau meletakkan benda paling berharga di dalamnya. Dan oleh karenanya, sesaat aku merasa teristimewa di antara benda lainnya di kamar ini.

Kasihku, kau selalu tahu ke mana kau harus pulang, tapi aku tidak mempunyai pilihan lain selain menjaga milikmu yang paling berharga, yang kau simpan di dalam laci jantungku.

Aku hanya ingin kau tahu, apakah kau--sekali saja--tahu bahwa aku selalu menjaga hatimu di dalam laci jantungku?



Cinere, 16 Mei 2010
03.00 WIB

Minggu, 08 Mei 2011

Titik Balik


Pengalaman membaca pertama saya dimulai dengan seperangkat boks seri buku binatang yang dibelikan Ibu ketika mengetahui bahwa saya telah lancar membaca pada umur 4 tahun. Kala itu, saya terpesona dengan rangkaian kata-kata indah dipadu dengan ilustrasi gambar yang menarik dan penuh warna-warna lembut bagi anak berumur 4 tahun.
Kecintaan saya pada buku bergambar semakin bertambah ketika Ayah terkadang membelikan saya komik di akhir pekan. Komiknya bermacam-macam, mulai dari komik yang saya senangi hingga komik yang kurang saya senangi. Komik yang saya gemari (bahkan hingga sekarang saya masih menyukainya) adalah Doraemon, Kobochan, Hai, Miko!, sampai Crayon Sinchan. Selain komik yang saya sukai, ada beberapa komik yang rutin dibeli oleh Ayah untuk saya, yang sudah tentu saya sangat lama bagi saya untuk menyelesaikannya, yaitu komik seri pahlawan dunia terbitan Elex Media Komputindo yang menceritakan kisah-kisah Albert Einstein, Isaac Newton, Isadora Duncan, Hellen Keller, Napoleon Bonaparte, dan pahlawan dunia lainnya.
Saya sudah lupa novel (tanpa ilustrasi) apa yang saya baca pertama kali. Yang saya ingat bacaan-bacaan awal saya ketika kecil adalah Charlie and The Chocolate Factory karya Roald Dahl, Ms. Witch (yang saya lupa siapa pengarangnya), dan novel teenlit seperti Vibe.
Masa SMP adalah tahun-tahun keemasan saya dalam membaca. Perpustakaan di sekolah waktu itu cukup lengkap. Saya menyukai berbagai kumpulan puisi Sapardi Djoko Damono, Chairil Anwar, Sutardji Chalzoum Bachri, majalah Horison, bahkan saya sempat membaca karya Pramoedya Ananta Toer yang berjudul Bumi Manusia yang super tebal itu, tapi tidak punya tenaga untuk habis membacanya. Selain itu, masa SMP adalah masa di mana saya menyukai karya populer Sophie Kinsella seperti rangkaian novel Confession of Shopaholic, Meg Cabot: Princess Diaries, dan Julie Anne Peters: Luna.
Saat duduk di kelas 3 SMP, saya mulai terpanggil untuk menulis. Saya mulai mendengar suara-suara yang memanggil saya untuk mengambil pensil lalu mulai menggerakkannya di atas kertas. Kebetulan pada saat itu saya mempunyai beberapa buku catatan kosong yang tidak terpakai untuk saya pakai menulis. Masa-masa itu adalah masa di mana saya begitu bersemangat menulis. Saat itu saya bisa menulis habis 3 buah cerpenpan (cerita pendek panjang) dalam sebuah buku catatan. Biasanya setelah menulis sebuah cerpenpan saya suka memberikannya kepada teman-teman untuk dibaca dan diberi tanggapan. Ketika teman saya mengatakan bahwa karya saya baik, saya semakin semangat untuk menulis cerpenpan lagi.
Entah mengapa ketika SMA saya jarang (bahkan hampir tidak pernah) membaca karya sastra apalagi menulis. Ada sebuah kegiatan lain yang menarik saya untuk ditekuni, Hip Hop. Ya, dance jenis ini saya tekuni selama tiga tahun di SMA yang praktis membuat saya kehilangan waktu dan juga selera untuk menulis. Tapi, di masa-masa itu, saya masih suka mengikuti perkembangan tulisan lewat mading sekolah, bahkan di tahun pertama SMA, saya hampir sempat mengambil ekskul mading. Saya juga masih rutin membeli majalah remaja dan membaca rubrik cerpen di dalamnya.
Akhirnya titik balik semua pengalaman saya itu adalah ketika saya berada di penghujung kelas 3 SMA. Masa ketika saya harus mengambil jenjang yang lebih tinggi lagi di perguruan tinggi. Titik balik itu semakin nyata ketika saya sedang berada di dalam gedung bimbingan belajar tempat saya mempersiapkan diri agar dapat masuk ke universitas yang saya inginkan, saya masih kebingungan untuk mencantumkan pilihan kedua di lembar formulir. Ketika itu, tentor pembimbing saya yang juga guru Bahasa Indonesia di sekolah menyarankan saya untuk mengambil Sastra Indonesia karena belum banyak peminatnya namun berpotensi mendapat banyak pekerjaan selepas lulus dari universitas. Semuanya serasa berputar mulai hari itu, alasan mengapa saya sangat menunggu pelajaran bahasa Indonesia selama saya bersekolah dan yang lebih nyata adalah ketika benar-benar berada pada hari-H pengembalian formulir tes masuk universitas suara-suara itu muncul kembali. Suara-suara yang memanggil saya persis suara yang saya dengar ketika saya SMP, ketika saya melihat jurusan Sastra Indonesia di kolom pilihan itu saya termenung sesaat, lalu dengan sangat mantap saya mengisi pilihan kedua dengan keinginan hati tersebut.
Ketika saya diterima masuk ke dalam jurusan sastra, saya tidak pernah merasa menyesal terhadap pilihan yang saya ambil. Sastra adalah panggilan hati saya, saya menyukai seni, dan terlebih ketika Ibu saya mengatakan bahwa darah seni saya kemungkinan besar berasal dari sahabat Eyang Kakung saya. Ibu Saya, Etty Toersastiti Soegito, nama tengahnya diberikan oleh sahabat Eyang Kakung saya, yang tidak lain adalah Pramoedya Ananta Toer :)