Selasa, 08 Januari 2013

Tentang BEM UI 2012...



Awal Februari di tahun 2012 ketika sedang memasuki kelas pertama di semester 6, Aisis, teman sekelas saya mengajak saya untuk masuk menjadi staff-nya di BEM UI 2012. Waktu itu Aisis baru menjabat sebagai kepala departemen Kreativitas, Kesenian, dan Kebudayaan. Butuh waktu hampir dua minggu bagi saya dan Atha untuk mengambil kesempatan itu. Organisasi sekelas BEM? Bukannya akan menyita banyak waktu? Dalam jangka waktu dua minggu saya tidak berpikir banyak, sampai akhirnya saya memberi jawaban kepada Aisis.

Sebagai penulis yang selalu menulis hampir tanpa rencana, saya selalu percaya pada dunia spiritual di dalam kehidupan manusia. Salah satunya adalah saya percaya benar kepada firasat, naluri, intuisi, atau entahlah apalagi nama yang sejenis dengan kata-kata tadi. Saya punya firasat yang baik ketika saya memasuki laman BEM UI 2012 di internet untuk mengunduh formulir dan membaca visi misi BEM saat itu. Dan sepertinya saya... jatuh cinta? 

Salah seorang teman saya pernah mengatakan kepada saya perihal jatuh cinta. Dia pernah bertanya kepada saya.

"Go, pernah jatuh cinta?"

"Pernah."

"Ada alasannya nggak kenapa lo bisa jatuh cinta sama seseorang."

"Ada."

"Apa aja alasannya?"

Lalu meluncurlah berbagai alasan dari mulut saya mengapa saya jatuh cinta kepada seseorang. Ketika saya sedang mengatakan berbagai alasan saya, saya melihat teman saya mengangkat sudut-sudut bibirnya tampak tersenyum. Setelah saya selesai berbicara, dia berkata begini

"Jatuh cinta itu nggak butuh alasannya, Go. Kalau lo jatuh cinta karena dia cantik, pintar, kaya, atau baik, suatu saat ketika dia berubah dengan menjadi orang yang nggak cantik, nggak pintar, nggak kaya, dan nggak baik lagi selesai kan rasa cinta lo buat dia? Jatuh cinta itu harusnya tanpa alasan, Go."

"Jadi gue harus jawab apa kalau ada yang tanya sama gue kenapa gue bisa jatuh cinta sama seseorang?"

"Karena lo nggak tahu. Dan lo nggak perlu tahu. Dengan begitu lo akan terus berjalan sama dia, tanpa tahu ujungnya lo akan dibawa ke mana sama dia."

Kemudian saya terdiam. Masih terdiam di depan laptop saat merenung di depan formulir pendaftaran virtual staff BEM UI 2012. Saya mulai mengarahkan tangan ke atas papan kunci dan mulai mengetik. Sejak saat itu, saya sadar, saya jatuh cinta tanpa alasan kepada BEM UI.

* * *

Sepanjang tahun 2012, saya ikut menangis, ikut tertawa, ikut marah, ikut tersenyum untuk BEM UI, khususnya untuk departemen Kresenbud tempat saya bernaung. Beberapa orang harus pergi karena tampaknya mereka jatuh cinta dengan alasan. Sedangkan kami yang masih bertahan memutuskan untuk terus berjalan mencapai ujungnya walau selalu tertatih. Kadang saya lelah, tapi saya selalu tahu akan ada tangan yang membantu saya berdiri di sini, di BEM UI. 

Saya belajar tentang manusia, tentang kerja keras, dan semangat sebagai sebuah tim yang solid. Saya tidak akan munafik dengan mengatakan bahwa tim kami selalu baik-baik saja, rapat selalu di restoran Korea, dan selalu cukup uang untuk mengadakan sebuah acara. Kami hampir selalu berbeda pendapat, hampir saling memukul, dan air mata yang sering tumpah untuk sebuah acara, tapi saya bersyukur untuk itu karena dengan adanya hal tersebut, anggota yang tersisa semakin kuat dan kita merasa semakin dekat sebagai sebuah saudara, hingga akhirnya hanya ada sebuah pelukan hangat yang lama dan sebuah janji untuk terus menjadi keluarga.

Apabila saya tahu kalau menjadi anggota BEM UI akan begitu melelahkan, menguras emosi, dana, dan juga perang ide, mungkin saya akan undur diri. Namun masalahnya saya tidak tahu dan tidak pernah mau tahu karena saya sudah jatuh cinta terlebih dahulu. 

Saya akan terus mengingat kita dalam hati saya. Setiap nama dan semua karya yang pernah dibuat adalah sejarah yang akan terus saya kenang. Kapal yang hanya diam di dalam pelabuhan adalah kapal yang aman, tapi bukan untuk itu sebuah kapal diciptakan. Setiap individu di dalam BEM akan terus berlayar menuju lautan yang lebih luas.

BEM UI 2012, berlayarlah, terus berlayar... 

Minggu, 11 November 2012

Deleted Chapter from #Percaya


Sebagai bentuk apresiasi saya kepada pembaca #Percaya yang selalu membuat saya tersenyum dan terharu. Bagian ini adalah bagian usang yang sesungguhnya ada di dalam draft, tetapi sengaja dibuang oleh editor karena memang tidak perlu. Namun, saya sendiri selalu ingin tahu bagian "dibuang-sayang" dalam setiap karya milik orang lain. Berikut ini adalah bab yang dibuang, yaitu, bab kedua, bab ketika Tintani kabur dari pesta ulang tahunnya sendiri. Enjoy! :)

* * *

Malam ini seperti biasanya Jakarta dipenuhi dengan lampu-lampu di sepanjang jalan yang seakan tak pernah lelah memamerkan diri bahwa kota ini adalah big city. Sam hanya diam sambil menatap jalanan yang kian sepi sementara Tintan menyetir di sampingnya. Keduanya masih mengenakan dress. Tintan menggantung stiletto-nya di bawah pegangan yang tertempel di langit-langit mobil sementara ia bertelanjang kaki mengatur rem, gas, dan kopling bergantian.

Ini bukan pertama kalinya Tintan berulah hingga saat pulang nanti ia bisa membuat orang-orang seisi rumah terbangun karena panik. Memikirkan tentang apa yang salah pada diri ayahnya (atau dirinya sendiri terkadang) tidak pernah ada habisnya. Normal bagi anak seumuran Tintan untuk mencari perhatian kepada ayahnya dalam batas yang wajar, yang tidak normal adalah mencari perhatian ayahnya dengan cara yang tidak wajar. Salah satunya seperti yang dilakukannya sendiri seperti malam ini.

Malam ini bukan malam pertama kalinya Tintan berulah. Tintan pernah membuang handphone-nya ke parit di depan sekolah lalu tidak pulang sampai larut malam hingga Sofyan dan Anti kebingungan mencari Tintan seharian. Waktu masih lebih kecil lagi, saat Tintan SD, ia pernah menghilangkan tas kerja ayahnya yang membuatnya dimarahi habis-habisan sampai Tintan menangis dan perlu satu hari bagi Anti untuk meredakan anak kecil yang terkejut melihat kemarahan sebesar itu keluar dari jiwa ayahnya sendiri. Tintan juga pernah menabrakkan mobil, menjatuhkan lemari, menyemprotkan saus ke seluruh lantai kamar tidurnya seakan Tintan baru saja bunuh diri, membuat rumah banjir dengan membocorkan ledeng di dapur, kabur lalu tinggal di rumah Sam berhari-hari, dan beberapa insiden lainnya yang bahkan Tintan sendiri lupa pernah melakukannya.

Tintan berkali-kali mendongak ke depan dashboard dari dalam mobilnya memerhatikan apakah lampu merah di jalanan ini rusak atau tidak. Ia kaget sendiri melihat penunjuk detik di samping lampu merah masih menghitung mundur 230 detik lagi. Tintan memainkan gasnya seakan tidak sabar menunggu penunjuk waktu itu segera berganti dari cahaya merah menjadi cahaya hijau.

"Tintan...," bisik Sam panik melihat Tintan, seakan tahu malapetaka apa yang akan dilakukan Tintan sebentar lagi.

Bunyi gas terdengar mengaum-ngaum seakan ada yang mengajak balapan malam itu. Ada kilatan perasaan kesal di mata Tintan ketika memainkan gas sambil melihat penunjuk waktu yang terpampang di samping lampu merah. "Pegangan, Sam!" suruh Tintan tenang.

Sam buru-buru menarik seat belt yang lupa ia pasang sebelumnya. Setelah terdengar bunyi klik dari seat belt yang dipasangnya, cepat-cepat ia mengaitkan tangannya di bawah pegangan fiber yang terletak di langit-langit mobil. Begitu lampu merah berganti menjadi angka nol dan berubah warna menjadi hijau, Tintan lekas menginjak kopling, memindahkan persneling dari gigi tiga ke gigi satu dengan terburu, kemudian melepas kopling, dan menginjak gas dengan cepat. Ada bunyi decitan panjang yang bergesek dari ban mobil Tintan malam itu sebelum ia menyerbu jalanan kosong di depannya.

Teknik nge-drift ini Tintan dapat dari Laura. Tidak biasanya Tintan menggubris saran Laura, tapi kini Tintan melaju kencang malam itu di sepanjang jalan, berharap rasa kesalnya bisa terjatuh di jalanan malam yang kosong. Cahaya dari lampu kota dan lampu-lampu di papan iklan dan pusat perbelanjaan seperti siluet yang berlari dengan cepat dari samping jendela mobilnya. Tidak begitu lama ia mengebut, jalannya kembali melambat ketika melihat ada lampu merah lagi dari kejauhan. Sampai saat itu, aksi gila Tintan berhenti ketika melihat Sam yang kesulitan mengambil napas sambil menatap kosong ke depan jalan. Tintan tertawa terbahak-bahak melihat sahabat yang duduk di sampingnya dan beberapa detik selanjutnya tanpa sadar Tintan telah kehilangan alasan mengapa ia memutuskan kabur dari acara ulang tahunnya sendiri. Sam selalu mampu membuatnya lupa sejenak pada masalah yang dihadapinya.

Tintan memperhatikan Sam yang setelah acara nge-drift tadi kini hanya duduk terdiam di samping Tintan. Ini bukan pertama kalinya Sam harus menemani Tintan berulah. Di saat seperti ini Sam adalah malaikat pasif yang bisa membuat Tintan merasa tenang, cukup ada Sam diam di sampingnya, Tintan akan merasa lega. Sam mempunyai kesabaran yang luar biasa. Bagi Tintan, Sam adalah sahabat sejatinya jauh dibanding Cathy dan Laura. Sam paling tidak menuntut, paling setuju apa kata Tintan, paling tidak peduli pada kata dunia tentang pakaian Tintan yang tidak match dengan bawahannya, paling anti gosip-gosip murahan di sekolah, dan satu-satunya cewek di popular clique yang berpenampilan geek yang bisa masuk jurusan IPA, dan anggota ekstrakurikuler Karya Ilmiah Remaja (meski tadinya ide masuk kelompok KIR ditolak habis-habisan oleh Cathy dan Laura). Sam sungguh menjadi dirinya sendiri. Kadang Tintan sendiri iri pada Sam.

Setelah aksi ngebut tadi, sepanjang sisa malam itu mereka habiskan hanya dengan berputar-putar di jalanan ibu kota dari ujung ke ujung. Tintan melakukannya sampai ia benar-benar lelah dan segala rasa kesal pada ayahnya benar-benar hilang. Belum sampai Tintan mengantar Sam pulang ke rumahnya, sahabatnya yang sedaritadi menemani di kursi penumpang sudah jatuh tertidur.

Minggu, 21 Oktober 2012

Peluk


di atas bau rumput bekas hujan tadi malam
kunikmati kau dalam adamu, dalam caramu
di dalam riuh rendah suara di dekat suara
kudengar hatiku melewati hadirmu

di batas senyumanmu aku memutuskan berhenti
lalu kamu diamdiam berlari ke dalam hati
mencuri yang seharusnya tidakboleh dicuri
lalu kamu mencuri, kamu pencuri

adalah kamu, rasa yang datang merapat
terus menjauh seperti sekiranya sementara
malam ketika kita berpagut dalam pelukan
menit-menit berhenti dalam dekapan




aku hanya mampu mengerang berang
dalam bayang dalam layang dalam sayang
air dari mata dan hati jatuh ke pipiku
tidak bisakah aku berhenti kehilangan?

lalu jatuh dalam lubang yang sama berkalikali
aku seperti keledai terbodoh yang pernah ada
selalu kucoba namun aku tak mampu
tak merindukanmu

tidak bisakah kita memberi jeda pada waktu dunia
saling berhenti di tengah jalan lalu saling memeluk?
atau ditambah mencium atau berpagut?
karena rindu ini tidak lagi mampu diredam, aku remuk.

bukankah kita tahu sama tahu
kita tidak dapat kekal dalam ikatan
pun cinta yang kusemai tanpa perlu kautahu
aku berharap pada peluk yang menusuk

engkau samudra luas yang membiru
aku yang memeluk dalam relung dan ombakmu
seperti saat kita pernah berjalan di atas pasir
menyusuri hati masingmasing sambil menerus berpeluk

harusnya aku telah melupakanmu
dalam bayang dalam deru dalam napsu
namun aku tak bisa  melupakan
semua bayang semua deru semua napsu

malam menjauh pun denganmu
lagilagi kita terpisah
maukah kau sekadar berhenti lalu memelukku kembali
dan mengatakan semua baikbaik saja?

Lalu ketika rasa ini
hanya tinggal gelombang
dan pergi menjauh
kau benar-benar tiada

kenapa jatuh cinta semudah ini?
semudah kau memberi pelukan padaku.
tapi, kenapa dicintai sesulit ini?
sesulit kau mengatakan cinta kepadaku.

Sabtu, 06 Oktober 2012

True Love


Hai, Kamu, maaf aku harus tulis di email karena akan kepanjangan kalau aku nulis lewat chatting atau SMS. Kamu, semakin besar harusnya aku semakin belajar bagaimana caranya harus menghadapi hidup, bukan? Dan kamu salah satu orang yang membuat aku belajar bagaimana caranya menjadi terus kuat dan "hidup". :)


Entah kamu sadar atau nggak, aku udah 3 tahun 6 bulan hidup tanpa kamu, ketika  akhirnya kita harus saling terpisah dan hidup tanpa hubungan lagi. Ketika akhirnya kamu kuliah di Belanda, lalu kamu pulang lagi ke Jakarta dan semuanya semakin berbeda. Kadang, aku mikir, kenapa ya kita harus banget hidup dalam sebuah hubungan, lalu menggalaukan diri sendiri dan mellow? Jadi, aku baca sebuah artikel yang ditulis Sharmi Shotu kalau sebuah hubungan itu cuma tipuan dunia. Kita percaya bahwa kita telah disatukan dengan orang lain dalam proses ritual atau kata-kata, "Aku suka, jadi kamu mau jadi pacar aku?" lalu orang di depannya mengangguk dan jadian, ketimbang kita harus percaya pada hukum alam yang bilang kalau kita harus menerima dan merengkuh kesendirian kita baru setelah itu kita bisa mengalami cinta sejati. Aneh, ya? Atau aku yang tiba-tiba jadi aneh nulis begini ke kamu? Hehe.

Aku masih sayang sama Kamu, tapi sekarang sama sayangnya seperti aku sayang Mamaku, keponakanku di Duren Sawit, anjing-anjingku di rumah, buku-bukuku di rumah. Aku, pada akhirnya, belajar kalau cinta sejati akhirnya nggak pernah mengenal ikatan atau hierarki. Dan bukan mustahil kalau akhirnya aku cinta sama kamu tanpa merasa kamu harus ada dalam kehidupan aku, Kamu. 

Setelah baca tulisan Mbak Sharmi, aku tahu sekarang aku lega, Kamu. Karena aku ikhlas. Dan kamu, mantan terbaik yang pernah ada dalam hidup aku. Aku yakin masa depan kita berdua cerah. Aku harap suatu saat kita bisa lagi ngopi-ngopi tanpa rasa canngung. Atau lewatin malam bareng lagi di rumah kamu di Pondok Kopi atau di rumahku di Cinere? Atau nyanyi lagu "I Don't Miss Your Water"-nya Craig David dengan sangat soulful di dalam mobil kamu?

Akhirnya, lewat email ini, aku cuma mau bilang, kalau akhirnya, aku bisa berjalan terus. Tiga tahun enam bulan ini, aku masih terperangkap selalu mikirin kamu dan itu membuat aku nggak bisa terima orang baru yang datang buat aku. Beberapa orang udah berkorban atas keegoisan aku dengan mempersalahkan kamu. Mulai sekarang dan baru sekarang, aku mau lepasin kamu, seperti kamu bisa lepasin aku. Aku lega akhirnya bisa nulis ini. Lega bisa sejujur ini. Kamu, aku bisa move on mulai sekarang. :)


Milikmu dalam Kemurnian,
Diego.

Kamis, 27 September 2012

Berjalan dengan #Percaya




Waktu kecil, ketika sering ditanya orang saya hendak menjadi apa, saya selalu menjawab ingin jadi penulis. Tak jarang cita-cita saya terus berubah sering bertambahnya tahun di dalam hidup saya, kadang pula saya menjawab ingin menjadi pelukis, profesor, bahkan penari. Yang mengherankan adalah saya benar-benar bisa menjadi apa yang saya cita-citakan itu meski beberapa cita-cita tidak serius saya garap, dan hanya cita-cita tentang profesor yang belum saya raih.

Di rumah saya masih punya tiga buah kanvas yang ditutupi dengan lukisan saya, medali kemenangan dalam kompetisi dance se-Jakarta, dan juga sebuah buku tulis Kiko yang isinya saya tulis sendiri dengan cerita bersambung. Dari semua cita-cita, baik yang sudah saya raih maupun yang belum, --that-Professor-thingy-for-sure-- penulis adalah cita-cita yang berkelanjutan. Menulis adalah pekerjaan yang tidak akan pernah berhenti saya lakukan sampai suatu hari nanti saya tidak punya daya lagi untuk menulis. Seperti halnya segala perjalanan yang banyak orang lain lakukan hingga melihat bukunya sendiri terbit, pasti ada awal untuk memulainya. Banyak yang meminta saya menuliskan cerita di balik lahirnya #Percaya. Jadi, apa salahnya kalau saya menceritakan kepada teman-teman bagaimana Percaya bisa menjadi sebuah buku dan akhirnya diterbitkan oleh Gagas Media :)

* * *

Adalah seorang Kak Gita Romadhona yang dengan baik hati setelah saya ditolak berkali-kali oleh berbagai penerbit buku yang tidak memberikan respons terhadap buku saya, sampai yang berkata datar-datar bahwa buku saya tidak layak terbit. Padahal alasan merekalah yang saya butuhkan untuk membuat saya belajar lebih baik. Hanya ada dua penerbit yang saya ingat menjelaskan alasannya mengapa novel saya yang waktu itu berjudul Bintang yang Bermimpi tidak layak terbit oleh penerbit-penerbit itu.

Waktu itu bulan Oktober tahun 2010, ketika saya dikenalkan oleh Kak Gita Romadhona kepada Kak Christian selepas Kak Christian menjadi pembicara di kampus saya dalam seminar menulis kreatif. Dengan segan saya berkenalan dengan Kak Chris dan langsung memberikan naskah beserta brief singkat mengapa novel saya layak terbit, kelebihan, sinopsis, dan biodata diri saya dalam satu paket. Kami berbicara sebentar, sebelum akhirnya Kak Chris bilang kalau saya akan ditelepon setelah naskah saya selesai dibaca.

* * *

Sekitar satu minggu kemudian, di dalam kelas, saya mendapat telepon dari Gagas Media, waktu itu Kak Chris bilang kalau naskah saya sudah dibaca dan saya diminta ke kantor Gagas. Bukan main senangnya saya karena berharap kalau dipanggil ke kantor seperti ini berarti novel saya diterima, mana mungkin saya jauh-jauh dipanggil tapi nyatanya tidak diterima, kan?

Saya datang disambut oleh Kak Christian di teras belakang kantor Gagas Media yang lebih mirip rumah mewah. Beliau mengatakan bahwa naskah saya belum layak terbit, terlalu "aku" penceritaannya, saya hanya mengangguk dan terus mengangguk saat Kak Chris memberikan pelajaran tentang menulis novel dan referensi bacaan yang harus saya baca sebelum menulis, tanpa Kak Chris tahu mungkin betapa sedihnya saya. Sampai tiba waktunya Kak Chris menanyakan kepada saya apa motivasi saya menulis, kemudian saya diam, yang ada hanya hening. Saya menatap lekat mata Kak Chris hingga pandangan saya mengabur karena air yang menggenang di pelupuk mata saya, "Saya... mau bahagiain Papa Mama saya, Kak." Sesederhana itu. Kalau teman-teman sudah membaca post saya sebelumnya, kalian pasti tahu cerita hidup apa saja yang telah saya lalui bersama kedua orangtua saya. Mengingat mereka, membuat saya tidak malu untuk menangis di depan Kak Christian. Kak Christian menenangkan saya, memberikan saya tissue, dan membuat saya bangkit kembali. Sepanjang hari itu, sampai langit gelap, berdua Kak Christian, saya membuat plot di teras belakang kantor Gagas Media. 

* * *

Hari-hari setelah saya menangis di kantor Gagas, saya isi dengan mengerjakan PR yang telah diberi oleh Kak Christian, salah satunya adalah membaca 40 novel yang bergenre sama dengan novel yang akan saya buat. Membaca 40 novel adalah harga mati bagi setiap penulis sebelum menulis agar tulisannya jauh lebih matang. Kesuksesan seorang penulis juga ditentukan dari kuantitas penulis tersebut membaca buku. Penulis yang jarang membaca buku akan terlihat dari tulisan mereka. Salah satu aspek kegagalan naskah saya adalah ada dalam diri saya, saya memang jarang membaca buku lepas dari SMP (baca post saya sebelumnya).

Setelah membaca 40 novel, saya lanjutkan dengan menulis plot yang kemudian disetujui oleh Kak Christian. Tergenaplah sudah semua langkah-langkah yang harus dilakukan selama prapenulisan novel. Kini saya siap melakukan eksekusi terhadap proyek saya.

Saya mengambil waktu menulis di saat yang tepat, yakni saat libur peralihan semester. Liburan semester di bulan Januari kala itu saya benar-benar menolak semua ajakan liburan dari teman-teman saya dan berkutat di dalam rumah untuk menulis. Waktu menulis saya berlangsung dari tengah malam hingga menjelang pagi. Saya tidak akan masuk ke dalam kamar apabila sinar matahari belum jatuh ke atas lantai ruang menulis saya. Orangtua saya mahfum. Mereka mengizinkan saya menulis asal tidak terlalu banyak minum kopi dalam semalam. 

Setiap sore saya bangun, menonton TV, DVD, membaca buku untuk mencari inspirasi sebelum menulis nanti malam sampai menjelang siang. Sore saya akan bangun kembali. Begitu terus pola hidup saya selama sebulan.

Akhirnya, selesailah naskah pertama saya. Kemudian saya bertemu lagi dengan Kak Christian di kantor Gagas dan dengan keramahannya seperti biasa Kak Christian berjanji akan cepat membaca naskah saya. Di teras belakang, saya mulai merasa saya dan Kak Christian mulai menjadi teman curhat yang baik, segala problem penulisan saya tuangkan kepadanya.

* * *

Lepas tiga bulan, saya dipanggil Kak Christian. Inilah saatnya. Jantung saya berdegup kencang saat memasuki area kantor Gagas. Anehnya kini saya tidak berekspektasi seperti pertama kali saya berkunjung ke sini. Kalaupun gagal, saya tidak akan berat hati untuk belajar lagi karena saya suka belajar dan menjadi murid Kak Christian. Ada banyak ilmu yang saya dapat dari beliau.

Di teras belakang, saya memandang Kak Chris dengan penuh tunggu. Kemudian Kak Chris berkata, "Terima kasih untuk segala kerja keras kamu, kamu belajar banyak. Naskah seperti ini, Dear, yang aku maksud. Nanti tinggal tunggu kabar dari aku ya. Naskah ini mau aku ajukan di rapat redaksi. Kalau lolos, naskah kamu siap dibukukan." Hari itu, tidak ada yang lebih menyenangkan daripada melihat kerja keras saya berhasil sampai di tahap ini. Kak Chris pun bilang agar saya tidak berhenti di buku pertama. Harus ada buku kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya. Saya tahu sekarang, kalau saya sudah punya guru menulis favorit saya setelah Ibu Ani (baca post sebelumnya).

* * *

Bulan Oktober tahun 2011, ketika saya baru pulang dari kampus, saya mendapat pesan dari Kak Christian kalau naskah saya lolos rapat redaksi. Rasanya saya ingin berteriak di dalam angkot yang membawa saya pulang. Saya masih ingat, malam itu saya menangis di sepanjang jalan saya pulang. Orang-orang pertama yang saya kabarkan tentu saja Mama dan Papa. Sampai sekarang pun saya masih menangis jika ingat reaksi Mama kala itu. Mama tersenyum bahagia, kemudian memeluk saya sambil berkata, "Hebat anak Mama sekarang bisa bahagiain Mama." Saya menangis mendengar Mama berkata begitu. Perjuangan saya untuk menulis novel di larut malam hingga siang hari tidak pernah sia-sia.