Minggu, 11 November 2012

Deleted Chapter from #Percaya


Sebagai bentuk apresiasi saya kepada pembaca #Percaya yang selalu membuat saya tersenyum dan terharu. Bagian ini adalah bagian usang yang sesungguhnya ada di dalam draft, tetapi sengaja dibuang oleh editor karena memang tidak perlu. Namun, saya sendiri selalu ingin tahu bagian "dibuang-sayang" dalam setiap karya milik orang lain. Berikut ini adalah bab yang dibuang, yaitu, bab kedua, bab ketika Tintani kabur dari pesta ulang tahunnya sendiri. Enjoy! :)

* * *

Malam ini seperti biasanya Jakarta dipenuhi dengan lampu-lampu di sepanjang jalan yang seakan tak pernah lelah memamerkan diri bahwa kota ini adalah big city. Sam hanya diam sambil menatap jalanan yang kian sepi sementara Tintan menyetir di sampingnya. Keduanya masih mengenakan dress. Tintan menggantung stiletto-nya di bawah pegangan yang tertempel di langit-langit mobil sementara ia bertelanjang kaki mengatur rem, gas, dan kopling bergantian.

Ini bukan pertama kalinya Tintan berulah hingga saat pulang nanti ia bisa membuat orang-orang seisi rumah terbangun karena panik. Memikirkan tentang apa yang salah pada diri ayahnya (atau dirinya sendiri terkadang) tidak pernah ada habisnya. Normal bagi anak seumuran Tintan untuk mencari perhatian kepada ayahnya dalam batas yang wajar, yang tidak normal adalah mencari perhatian ayahnya dengan cara yang tidak wajar. Salah satunya seperti yang dilakukannya sendiri seperti malam ini.

Malam ini bukan malam pertama kalinya Tintan berulah. Tintan pernah membuang handphone-nya ke parit di depan sekolah lalu tidak pulang sampai larut malam hingga Sofyan dan Anti kebingungan mencari Tintan seharian. Waktu masih lebih kecil lagi, saat Tintan SD, ia pernah menghilangkan tas kerja ayahnya yang membuatnya dimarahi habis-habisan sampai Tintan menangis dan perlu satu hari bagi Anti untuk meredakan anak kecil yang terkejut melihat kemarahan sebesar itu keluar dari jiwa ayahnya sendiri. Tintan juga pernah menabrakkan mobil, menjatuhkan lemari, menyemprotkan saus ke seluruh lantai kamar tidurnya seakan Tintan baru saja bunuh diri, membuat rumah banjir dengan membocorkan ledeng di dapur, kabur lalu tinggal di rumah Sam berhari-hari, dan beberapa insiden lainnya yang bahkan Tintan sendiri lupa pernah melakukannya.

Tintan berkali-kali mendongak ke depan dashboard dari dalam mobilnya memerhatikan apakah lampu merah di jalanan ini rusak atau tidak. Ia kaget sendiri melihat penunjuk detik di samping lampu merah masih menghitung mundur 230 detik lagi. Tintan memainkan gasnya seakan tidak sabar menunggu penunjuk waktu itu segera berganti dari cahaya merah menjadi cahaya hijau.

"Tintan...," bisik Sam panik melihat Tintan, seakan tahu malapetaka apa yang akan dilakukan Tintan sebentar lagi.

Bunyi gas terdengar mengaum-ngaum seakan ada yang mengajak balapan malam itu. Ada kilatan perasaan kesal di mata Tintan ketika memainkan gas sambil melihat penunjuk waktu yang terpampang di samping lampu merah. "Pegangan, Sam!" suruh Tintan tenang.

Sam buru-buru menarik seat belt yang lupa ia pasang sebelumnya. Setelah terdengar bunyi klik dari seat belt yang dipasangnya, cepat-cepat ia mengaitkan tangannya di bawah pegangan fiber yang terletak di langit-langit mobil. Begitu lampu merah berganti menjadi angka nol dan berubah warna menjadi hijau, Tintan lekas menginjak kopling, memindahkan persneling dari gigi tiga ke gigi satu dengan terburu, kemudian melepas kopling, dan menginjak gas dengan cepat. Ada bunyi decitan panjang yang bergesek dari ban mobil Tintan malam itu sebelum ia menyerbu jalanan kosong di depannya.

Teknik nge-drift ini Tintan dapat dari Laura. Tidak biasanya Tintan menggubris saran Laura, tapi kini Tintan melaju kencang malam itu di sepanjang jalan, berharap rasa kesalnya bisa terjatuh di jalanan malam yang kosong. Cahaya dari lampu kota dan lampu-lampu di papan iklan dan pusat perbelanjaan seperti siluet yang berlari dengan cepat dari samping jendela mobilnya. Tidak begitu lama ia mengebut, jalannya kembali melambat ketika melihat ada lampu merah lagi dari kejauhan. Sampai saat itu, aksi gila Tintan berhenti ketika melihat Sam yang kesulitan mengambil napas sambil menatap kosong ke depan jalan. Tintan tertawa terbahak-bahak melihat sahabat yang duduk di sampingnya dan beberapa detik selanjutnya tanpa sadar Tintan telah kehilangan alasan mengapa ia memutuskan kabur dari acara ulang tahunnya sendiri. Sam selalu mampu membuatnya lupa sejenak pada masalah yang dihadapinya.

Tintan memperhatikan Sam yang setelah acara nge-drift tadi kini hanya duduk terdiam di samping Tintan. Ini bukan pertama kalinya Sam harus menemani Tintan berulah. Di saat seperti ini Sam adalah malaikat pasif yang bisa membuat Tintan merasa tenang, cukup ada Sam diam di sampingnya, Tintan akan merasa lega. Sam mempunyai kesabaran yang luar biasa. Bagi Tintan, Sam adalah sahabat sejatinya jauh dibanding Cathy dan Laura. Sam paling tidak menuntut, paling setuju apa kata Tintan, paling tidak peduli pada kata dunia tentang pakaian Tintan yang tidak match dengan bawahannya, paling anti gosip-gosip murahan di sekolah, dan satu-satunya cewek di popular clique yang berpenampilan geek yang bisa masuk jurusan IPA, dan anggota ekstrakurikuler Karya Ilmiah Remaja (meski tadinya ide masuk kelompok KIR ditolak habis-habisan oleh Cathy dan Laura). Sam sungguh menjadi dirinya sendiri. Kadang Tintan sendiri iri pada Sam.

Setelah aksi ngebut tadi, sepanjang sisa malam itu mereka habiskan hanya dengan berputar-putar di jalanan ibu kota dari ujung ke ujung. Tintan melakukannya sampai ia benar-benar lelah dan segala rasa kesal pada ayahnya benar-benar hilang. Belum sampai Tintan mengantar Sam pulang ke rumahnya, sahabatnya yang sedaritadi menemani di kursi penumpang sudah jatuh tertidur.

Minggu, 21 Oktober 2012

Peluk


di atas bau rumput bekas hujan tadi malam
kunikmati kau dalam adamu, dalam caramu
di dalam riuh rendah suara di dekat suara
kudengar hatiku melewati hadirmu

di batas senyumanmu aku memutuskan berhenti
lalu kamu diamdiam berlari ke dalam hati
mencuri yang seharusnya tidakboleh dicuri
lalu kamu mencuri, kamu pencuri

adalah kamu, rasa yang datang merapat
terus menjauh seperti sekiranya sementara
malam ketika kita berpagut dalam pelukan
menit-menit berhenti dalam dekapan




aku hanya mampu mengerang berang
dalam bayang dalam layang dalam sayang
air dari mata dan hati jatuh ke pipiku
tidak bisakah aku berhenti kehilangan?

lalu jatuh dalam lubang yang sama berkalikali
aku seperti keledai terbodoh yang pernah ada
selalu kucoba namun aku tak mampu
tak merindukanmu

tidak bisakah kita memberi jeda pada waktu dunia
saling berhenti di tengah jalan lalu saling memeluk?
atau ditambah mencium atau berpagut?
karena rindu ini tidak lagi mampu diredam, aku remuk.

bukankah kita tahu sama tahu
kita tidak dapat kekal dalam ikatan
pun cinta yang kusemai tanpa perlu kautahu
aku berharap pada peluk yang menusuk

engkau samudra luas yang membiru
aku yang memeluk dalam relung dan ombakmu
seperti saat kita pernah berjalan di atas pasir
menyusuri hati masingmasing sambil menerus berpeluk

harusnya aku telah melupakanmu
dalam bayang dalam deru dalam napsu
namun aku tak bisa  melupakan
semua bayang semua deru semua napsu

malam menjauh pun denganmu
lagilagi kita terpisah
maukah kau sekadar berhenti lalu memelukku kembali
dan mengatakan semua baikbaik saja?

Lalu ketika rasa ini
hanya tinggal gelombang
dan pergi menjauh
kau benar-benar tiada

kenapa jatuh cinta semudah ini?
semudah kau memberi pelukan padaku.
tapi, kenapa dicintai sesulit ini?
sesulit kau mengatakan cinta kepadaku.

Sabtu, 06 Oktober 2012

True Love


Hai, Kamu, maaf aku harus tulis di email karena akan kepanjangan kalau aku nulis lewat chatting atau SMS. Kamu, semakin besar harusnya aku semakin belajar bagaimana caranya harus menghadapi hidup, bukan? Dan kamu salah satu orang yang membuat aku belajar bagaimana caranya menjadi terus kuat dan "hidup". :)


Entah kamu sadar atau nggak, aku udah 3 tahun 6 bulan hidup tanpa kamu, ketika  akhirnya kita harus saling terpisah dan hidup tanpa hubungan lagi. Ketika akhirnya kamu kuliah di Belanda, lalu kamu pulang lagi ke Jakarta dan semuanya semakin berbeda. Kadang, aku mikir, kenapa ya kita harus banget hidup dalam sebuah hubungan, lalu menggalaukan diri sendiri dan mellow? Jadi, aku baca sebuah artikel yang ditulis Sharmi Shotu kalau sebuah hubungan itu cuma tipuan dunia. Kita percaya bahwa kita telah disatukan dengan orang lain dalam proses ritual atau kata-kata, "Aku suka, jadi kamu mau jadi pacar aku?" lalu orang di depannya mengangguk dan jadian, ketimbang kita harus percaya pada hukum alam yang bilang kalau kita harus menerima dan merengkuh kesendirian kita baru setelah itu kita bisa mengalami cinta sejati. Aneh, ya? Atau aku yang tiba-tiba jadi aneh nulis begini ke kamu? Hehe.

Aku masih sayang sama Kamu, tapi sekarang sama sayangnya seperti aku sayang Mamaku, keponakanku di Duren Sawit, anjing-anjingku di rumah, buku-bukuku di rumah. Aku, pada akhirnya, belajar kalau cinta sejati akhirnya nggak pernah mengenal ikatan atau hierarki. Dan bukan mustahil kalau akhirnya aku cinta sama kamu tanpa merasa kamu harus ada dalam kehidupan aku, Kamu. 

Setelah baca tulisan Mbak Sharmi, aku tahu sekarang aku lega, Kamu. Karena aku ikhlas. Dan kamu, mantan terbaik yang pernah ada dalam hidup aku. Aku yakin masa depan kita berdua cerah. Aku harap suatu saat kita bisa lagi ngopi-ngopi tanpa rasa canngung. Atau lewatin malam bareng lagi di rumah kamu di Pondok Kopi atau di rumahku di Cinere? Atau nyanyi lagu "I Don't Miss Your Water"-nya Craig David dengan sangat soulful di dalam mobil kamu?

Akhirnya, lewat email ini, aku cuma mau bilang, kalau akhirnya, aku bisa berjalan terus. Tiga tahun enam bulan ini, aku masih terperangkap selalu mikirin kamu dan itu membuat aku nggak bisa terima orang baru yang datang buat aku. Beberapa orang udah berkorban atas keegoisan aku dengan mempersalahkan kamu. Mulai sekarang dan baru sekarang, aku mau lepasin kamu, seperti kamu bisa lepasin aku. Aku lega akhirnya bisa nulis ini. Lega bisa sejujur ini. Kamu, aku bisa move on mulai sekarang. :)


Milikmu dalam Kemurnian,
Diego.

Kamis, 27 September 2012

Berjalan dengan #Percaya




Waktu kecil, ketika sering ditanya orang saya hendak menjadi apa, saya selalu menjawab ingin jadi penulis. Tak jarang cita-cita saya terus berubah sering bertambahnya tahun di dalam hidup saya, kadang pula saya menjawab ingin menjadi pelukis, profesor, bahkan penari. Yang mengherankan adalah saya benar-benar bisa menjadi apa yang saya cita-citakan itu meski beberapa cita-cita tidak serius saya garap, dan hanya cita-cita tentang profesor yang belum saya raih.

Di rumah saya masih punya tiga buah kanvas yang ditutupi dengan lukisan saya, medali kemenangan dalam kompetisi dance se-Jakarta, dan juga sebuah buku tulis Kiko yang isinya saya tulis sendiri dengan cerita bersambung. Dari semua cita-cita, baik yang sudah saya raih maupun yang belum, --that-Professor-thingy-for-sure-- penulis adalah cita-cita yang berkelanjutan. Menulis adalah pekerjaan yang tidak akan pernah berhenti saya lakukan sampai suatu hari nanti saya tidak punya daya lagi untuk menulis. Seperti halnya segala perjalanan yang banyak orang lain lakukan hingga melihat bukunya sendiri terbit, pasti ada awal untuk memulainya. Banyak yang meminta saya menuliskan cerita di balik lahirnya #Percaya. Jadi, apa salahnya kalau saya menceritakan kepada teman-teman bagaimana Percaya bisa menjadi sebuah buku dan akhirnya diterbitkan oleh Gagas Media :)

* * *

Adalah seorang Kak Gita Romadhona yang dengan baik hati setelah saya ditolak berkali-kali oleh berbagai penerbit buku yang tidak memberikan respons terhadap buku saya, sampai yang berkata datar-datar bahwa buku saya tidak layak terbit. Padahal alasan merekalah yang saya butuhkan untuk membuat saya belajar lebih baik. Hanya ada dua penerbit yang saya ingat menjelaskan alasannya mengapa novel saya yang waktu itu berjudul Bintang yang Bermimpi tidak layak terbit oleh penerbit-penerbit itu.

Waktu itu bulan Oktober tahun 2010, ketika saya dikenalkan oleh Kak Gita Romadhona kepada Kak Christian selepas Kak Christian menjadi pembicara di kampus saya dalam seminar menulis kreatif. Dengan segan saya berkenalan dengan Kak Chris dan langsung memberikan naskah beserta brief singkat mengapa novel saya layak terbit, kelebihan, sinopsis, dan biodata diri saya dalam satu paket. Kami berbicara sebentar, sebelum akhirnya Kak Chris bilang kalau saya akan ditelepon setelah naskah saya selesai dibaca.

* * *

Sekitar satu minggu kemudian, di dalam kelas, saya mendapat telepon dari Gagas Media, waktu itu Kak Chris bilang kalau naskah saya sudah dibaca dan saya diminta ke kantor Gagas. Bukan main senangnya saya karena berharap kalau dipanggil ke kantor seperti ini berarti novel saya diterima, mana mungkin saya jauh-jauh dipanggil tapi nyatanya tidak diterima, kan?

Saya datang disambut oleh Kak Christian di teras belakang kantor Gagas Media yang lebih mirip rumah mewah. Beliau mengatakan bahwa naskah saya belum layak terbit, terlalu "aku" penceritaannya, saya hanya mengangguk dan terus mengangguk saat Kak Chris memberikan pelajaran tentang menulis novel dan referensi bacaan yang harus saya baca sebelum menulis, tanpa Kak Chris tahu mungkin betapa sedihnya saya. Sampai tiba waktunya Kak Chris menanyakan kepada saya apa motivasi saya menulis, kemudian saya diam, yang ada hanya hening. Saya menatap lekat mata Kak Chris hingga pandangan saya mengabur karena air yang menggenang di pelupuk mata saya, "Saya... mau bahagiain Papa Mama saya, Kak." Sesederhana itu. Kalau teman-teman sudah membaca post saya sebelumnya, kalian pasti tahu cerita hidup apa saja yang telah saya lalui bersama kedua orangtua saya. Mengingat mereka, membuat saya tidak malu untuk menangis di depan Kak Christian. Kak Christian menenangkan saya, memberikan saya tissue, dan membuat saya bangkit kembali. Sepanjang hari itu, sampai langit gelap, berdua Kak Christian, saya membuat plot di teras belakang kantor Gagas Media. 

* * *

Hari-hari setelah saya menangis di kantor Gagas, saya isi dengan mengerjakan PR yang telah diberi oleh Kak Christian, salah satunya adalah membaca 40 novel yang bergenre sama dengan novel yang akan saya buat. Membaca 40 novel adalah harga mati bagi setiap penulis sebelum menulis agar tulisannya jauh lebih matang. Kesuksesan seorang penulis juga ditentukan dari kuantitas penulis tersebut membaca buku. Penulis yang jarang membaca buku akan terlihat dari tulisan mereka. Salah satu aspek kegagalan naskah saya adalah ada dalam diri saya, saya memang jarang membaca buku lepas dari SMP (baca post saya sebelumnya).

Setelah membaca 40 novel, saya lanjutkan dengan menulis plot yang kemudian disetujui oleh Kak Christian. Tergenaplah sudah semua langkah-langkah yang harus dilakukan selama prapenulisan novel. Kini saya siap melakukan eksekusi terhadap proyek saya.

Saya mengambil waktu menulis di saat yang tepat, yakni saat libur peralihan semester. Liburan semester di bulan Januari kala itu saya benar-benar menolak semua ajakan liburan dari teman-teman saya dan berkutat di dalam rumah untuk menulis. Waktu menulis saya berlangsung dari tengah malam hingga menjelang pagi. Saya tidak akan masuk ke dalam kamar apabila sinar matahari belum jatuh ke atas lantai ruang menulis saya. Orangtua saya mahfum. Mereka mengizinkan saya menulis asal tidak terlalu banyak minum kopi dalam semalam. 

Setiap sore saya bangun, menonton TV, DVD, membaca buku untuk mencari inspirasi sebelum menulis nanti malam sampai menjelang siang. Sore saya akan bangun kembali. Begitu terus pola hidup saya selama sebulan.

Akhirnya, selesailah naskah pertama saya. Kemudian saya bertemu lagi dengan Kak Christian di kantor Gagas dan dengan keramahannya seperti biasa Kak Christian berjanji akan cepat membaca naskah saya. Di teras belakang, saya mulai merasa saya dan Kak Christian mulai menjadi teman curhat yang baik, segala problem penulisan saya tuangkan kepadanya.

* * *

Lepas tiga bulan, saya dipanggil Kak Christian. Inilah saatnya. Jantung saya berdegup kencang saat memasuki area kantor Gagas. Anehnya kini saya tidak berekspektasi seperti pertama kali saya berkunjung ke sini. Kalaupun gagal, saya tidak akan berat hati untuk belajar lagi karena saya suka belajar dan menjadi murid Kak Christian. Ada banyak ilmu yang saya dapat dari beliau.

Di teras belakang, saya memandang Kak Chris dengan penuh tunggu. Kemudian Kak Chris berkata, "Terima kasih untuk segala kerja keras kamu, kamu belajar banyak. Naskah seperti ini, Dear, yang aku maksud. Nanti tinggal tunggu kabar dari aku ya. Naskah ini mau aku ajukan di rapat redaksi. Kalau lolos, naskah kamu siap dibukukan." Hari itu, tidak ada yang lebih menyenangkan daripada melihat kerja keras saya berhasil sampai di tahap ini. Kak Chris pun bilang agar saya tidak berhenti di buku pertama. Harus ada buku kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya. Saya tahu sekarang, kalau saya sudah punya guru menulis favorit saya setelah Ibu Ani (baca post sebelumnya).

* * *

Bulan Oktober tahun 2011, ketika saya baru pulang dari kampus, saya mendapat pesan dari Kak Christian kalau naskah saya lolos rapat redaksi. Rasanya saya ingin berteriak di dalam angkot yang membawa saya pulang. Saya masih ingat, malam itu saya menangis di sepanjang jalan saya pulang. Orang-orang pertama yang saya kabarkan tentu saja Mama dan Papa. Sampai sekarang pun saya masih menangis jika ingat reaksi Mama kala itu. Mama tersenyum bahagia, kemudian memeluk saya sambil berkata, "Hebat anak Mama sekarang bisa bahagiain Mama." Saya menangis mendengar Mama berkata begitu. Perjuangan saya untuk menulis novel di larut malam hingga siang hari tidak pernah sia-sia.


Kamis, 30 Agustus 2012

Titik Balik




2001
Setiap berjalan masuk ke dalam toko buku, saya selalu mengagumi setiap nama yang tertulis di depan setiap buku. Bukan, bukan judul buku yang saya maksud, tapi setiap nama penulisnya. Saya selalu berpikir secara sempit bahwa setiap orang yang menulis buku pastilah kaya. Kaya dalam maksud materi. Sesempit itu pikiran saya. Saya hanya mampu berandai-andai bahwa setiap penulis yang bukunya terpajang setiap hari di toko buku ini pastilah orang yang berbahagia. Menulis dan kemudian bukunya dipajang. Keluar dari toko buku, saya selalu bermimpi, andai saja buku saya bisa dipajang suatu saat nanti. Ketika itu saya masih SD dan pulang dari toko buku membawa novel Harry Potter and the Sorcerer Stone.
* * *

2004
Bertambah umur, saya menyadari bahwa saya tidak bisa selalu mempunyai uang lebih untuk membeli buku. Dari kecil saya dibiasakan untuk membeli barang yang saya inginkan sendiri oleh orangtua, termasuk handphone, scooter (dulu generasi saya menyebutnya otopet), sampai buku-buku. Saya hanya mempunyai uang lebih pada saat Lebaran, Natal, dan ulang tahun. Padahal kebutuhan untuk membaca saya lebih dari itu. Sayang di antara keluarga saya, hanya Kakek saya yang suka membaca, bahkan Kakek memiliki perpustakaan kecil di rumah keluarga besar kami di Menteng waktu itu. 
Untuk menghapus rasa kecewa saya karena tidak memiliki uang untuk membeli buku, maka saya memutar akal, setiap pulang sekolah saat saya masih SMP, bukannya bermain bersama teman-teman, saya malah pergi ke perpustakaan dan mulai melahap karya-karya milik Pramoedya Ananta Toer, Chairil Anwar, kumpulan puisi dan prosa majalah puisi Horison, Sapardi Djoko Damono, dan Isbedy Setiawan. Saya malah melewati novel-novel populer dan berkutat pada bacaan sastra yang cenderung berat. Entah mengapa saya merasa normal ketika melakukan aktivtas tersebut. Teman-teman saya pun maklum, cenderung kagum, mereka malah senang saat nama saya muncul sebagai kontributor lepas di sebuah majalah elektronik. Waktu itu saya mendapat 150 ribu rupiah untuk satu artikel di majalah. Saya bahkan masih ingat uang itu saya belikan sepatu santai berwarna biru. 

Hari demi hari selama di SMP, saya habiskan dengan membaca buku di perpustakaan sekolah, terkadang saya menulis puisi dan menulis cerpen. Saya masih ingat, saya mempunyai sebuah buku khusus yang saya isi dengan cerpen-cerpen saya. Isinya tentang pengalaman pribadi yang saya bumbui kisah fiksi agar lebih dramatis. Selesai menulis satu cerita, saya izinkan teman-teman dan guru bahasa Indonesia untuk membaca dan menilai buku saya. Sungguh senang ketika saya mendapati buku saya kembali dengan coretan pujian dan karikatur gambar dari teman-teman saya. Bahkan, guru bahasa Indonesia saya mengagumi tulisan yang saya buat, walaupun beliau bilang tulisan saya cenderung melompat-lompat, macam novel detektif, macam tulisan sastrawan ucap beliau. Beliau tersenyum dan mengatakan saya harus terus menulis. Senyuman Ibu Ani, guru bahasa Indonesia terbaik saya kala itu, mengalahkan semua rasa lelah saya. Tidak ada yang lebih indah selain senyuman Ibu Ani. Kala itu dalam dunia kecil saya, Ibu Ani adalah guru besar bahasa Indonesia yang paling saya kagumi.

* * *

2006
Saya mengalami titik balik dalam hidup saya. Saya gagal dalam tes masuk SMA St. Theresia kala itu. Dari TK sampai SMP saya habiskan dengan belajar di Santa Theresia. Saya hidup, tumbuh, bernapas, dan bermain di Santa Theresia. Ayah dan Ibu saya bilang saya berkembang lebih baik di sekolah swasta itu, bukan di sekolah negeri yang isinya anak-anak malas semua. Hidup saya hancur. Saya menangis tidak berhenti. Rasanya dunia jatuh di atas kepala saya. Saya sakit saat mengikuti psikotes ke SMA. Mungkin hal itu membuat saya tidak konsen saat mengerjakannya. Saya melepaskan teman-teman yang bertumbuh dengan saya dari TK. Mereka sudah seperti keluarga saya. Titik balik ini memengaruhi kecintaan saya juga terhadap menulis, terutama kepada dunia membaca saya.

Saya diterima sebagai siswa di SMA Negeri 1 Jakarta. Tidak jelek menurut orang-orang, malah cenderung bagus. Namun itu tidak berlaku bagi saya, semua sekolah negeri sama saja. Isinya anak kampung semua. Reputasinya jauh di bawah Santa Theresia. Saya pasti akan menghabiskan diri menjadi anak pendiam dan selalu pergi ke perpustakaan setiap hari. 

Yang pertama saya lakukan saat hari pertama MOS di sekolah ini adalah terdiam melihat kenyataan di dalam gedung sekolah. Oke, mereka semua bersih dan tidak seburuk dugaan saya, tapi tetap saja sekolah negeri jauh di bawah ekspetasi saya. Saya masih menjadi anak pendiam dan berharap hidup saya akan lebih menyenangkan dengan melihat perpustakaan sekolah ini. Tahukah kalian apa yang saya lihat? Perpustakaan sekolah ini tidak lebih baik dari perpustakaan di Santa Theresia. Jumlah bukunya tidak lebih dari 10% jumlah yang ada di perpustakaan Santa Theresia. Buku-bukunya juga hampir sumbangan dari ikatan alumni sekolah ini. Hanya sedikit yang terdapat cap sekolah. Menyedihkan, batin saya dalam hati. 

Langkah berikutnya adalah pemilihan ekskul di sekolah ini, saya bimbang untuk memilih antara Mading atau Hip Hop. Jujur saja, Hip Hop lebih menggiurkan. Dari kecil saya sudah menyukai dunia tari, suka menari sendiri dan yang paling penting adalah kakak-kakak senior di kelas Hip Hop adalah anak populer di sekolah ini. Belum seminggu saya sekolah di sini, saya sudah terpengaruh oleh gaya anak-anak di sekolah ini untuk menjadi populer. Maka, lupakan soal dunia tulis menulis. Saya mengambil jalan lain, saya mau menjadi orang lain. Saya memutuskan mengambil Hip-Hop dan berusaha menjadi populer di sekolah ini.

* * *

2008
Katakanlah saya mendapat semua yang saya inginkan dalam hidup saya di SMA ini. Populer, menjadi Kapten Hip Hop, dikenal seluruh warga sekolah, memberikan piala untuk sekolah dalam lomba dance se-DKI. Damaikah hati saya? Belum. Sampai saya bersahabat dengan sekumpulan teman dari organisasi Rohani Kristen SMA 1, mereka mebawa saya ke arah yang berbeda dalam hidup saya. Mereka yang membuat frasa titik balik menjadi berkat dalam hidup saya. Mereka yang membuka mata saya bahwa tidak semua teman di sekolah negeri adalah anak kampung dan pemalas. Bersama mereka, saya berjalan dengan rasa percaya. Di antara sahabat Rokris saya itu, adalah Keke, sahabat yang lekat dengan diri saya. sampai-sampai kami dijuluki sahabat skrotum, karena ke mana-mana kami selalu berdua. Pacar Keke juga anak Rokris sama seperti kami. Dari Keke-lah saya belajar menjadi diri saya sendiri, belajar menerima segala hal, dan mensyukuri hidup. Di SMA yang pernah saya sebut kampungan ini, saya malah mendapat sahabat layaknya saudara sendiri.

Akhir tahun 2008, yang seharusnya tahun penuh sukacita untuk merayakan segalanya di dalam hidup saya. Saya mengalami titik balik terdahsyat di dalam keluarga kami. Saya, kakak, Papa, dan Mama, diusir dari rumah kami sendiri. Rumah kami di Menteng memang telah dijual sejak enam bulan lalu. Uangnya bahkan sudah Papa terima dari pembeli rumah yang kaya raya. Sebenarnya bisa saja kami pindah sejak enam bulan lalu, tapi Papa meminta kepada pembeli rumah untuk bersabar sebentar sementara rumah kami di Cinere sedang dibangun. Lagipula saya masih bersekolah di Jakarta Pusat, Kakak masih kuliah di daerah Salemba. Sang pembeli rupanya mengiyakan keinginan Papa.

Awal Januari semuanya tidak bisa dibendung lagi. Sang pembeli tiba-tiba masuk ke rumah kami bersama istrinya, kemudian marah-marah kepada saya, kakak, dan asisten rumah tangga kami sementara Papa dan Mama masih menginap di Cinere yang belum pantas untuk dihuni. Ketika sang pembeli sudah mengancam kami untuk segera keluar dari "rumahnya", saya menangis di ruang keluarga kami. Minggu depan rumah kami harus sudah bersih. Saya masih menatap lekat rumah kami. Rumah yang menjadi saksi hidup saya selama 18 tahun. Saya mengamati setiap sudut ruangan dengan mata mengabur akibat air mata yang menumpuk di kantung mata. Teman-teman saya datang, Kina, Edo, Heni, Ipah, Pute kala itu, menghibur saya yang malam itu masih sedih harus secepatnya keluar dari rumah. Kami menghabiskan malam yang penuh hangat itu di sebuah warung makan di bilangan Menteng. Bersama sahabat-sahabat yang pernah mengisi hidup saya kala itu, masalah hanyalah serpihan debu yang hinggap di baju.

* * *

Maret 2009
Saya masih bersekolah. Malah hampir Ujian Nasional. Saat Papa bingung mencari tempat kos untuk saya sementara tinggal di Jakarta, adalah Tante saya yang bernama Bou Tuti menawari sebuah kamar kosong di bilangan Duren Sawit. Di sana, saya tinggal selama tiga bulan. Lumayan lebih dekat menuju sekolah dibanding jika saya harus menempuh perjalanan dari Cinere. Namun rupanya tinggal di Duren Sawit jauh dari kata gratis. Saya harus belajar untuk mandiri, layaknya anak yang memang tinggal indekos. Saya harus mencuci dan menyeterika baju sendiri, kadang-kadang masak sendiri, dan mengatur uang mingguan yang diberikan Mama. Lebih seringnya setiap pagi saya diantar oleh Bou dengan mobil menuju ke sekolah. Begitulah titik balik dalam hidup saya, saya kira hanya itu. Tapi ternyata belum. Ada titik balik yang belum dahsyat yang hendak saya ceritakan.

Sejak bulan Januari, saya mengambil les untuk persiapan SNMPTN. Saya belum tahu mengambil jurusan apa, tapi yang saya tahu saya harus masuk UI. Pergolakan batin dan titik balik serta keinginan untuk membahagiakan Papa dan Mama sejak melihat raut sedihnya saat tahu anak-anaknya yang harus menghadapi si pembeli rumah mengusir kami dari rumah, membuat saya bertekad dalam hati sekali ini saja untuk membahagiakan Papa dan Mama dengan berhasil lolos SNMPTN. Tuhan rupanya berkehendak lain lagi, saya mendapati enam sahabat baru di tempat les saya di Nurul Fikri. Bertujuh, kami berjuang untuk bisa masuk UI. Mereka saya panggil Uta, Wening, Wei, Ninda, Aza, dan Uta cowok. Kami saling menyemangati agar siap menghadapi SNMPTN. 

Dalam satu kesempatan saya bingung harus mengisi apa di pilihan kedua. Papa menyuruh saya untuk mengambil hukum, saya mengiyakan dengan alasan membahagiakan Papa. Tentor saya menyarankan agar mengambil Sastra Indonesia, "Nggak tahu kenapa Kakak lihat kamu punya potensi di sastra, Diego. sebaiknya kamu ambil Sastra."

Ketika mendengar ucapan tentor saya kala itu, pikiran saya terputar bersama waktu kembali ke masa SD ketika setiap kali saya diantar Papa ke toko buku demi membeli buku-buku cerita yang saya senangi, perjuangan saya sampai tidak tidur demi menyelesaikan cerita bersambung di buku tulis penuh coretan teman-teman dan kesan Ibu Ani, demi Chairul Anwar, Sapardi Djoko Damono, Pramoedya Ananta Toer, dan penyair di majalah Horison yang bersamanya saya bertumbuh di pepustakaan besar di Santa Theresia. Saya mantap mengambil sastra. Bahkan setelah ujian SNMPTN, saya berharap masuk Sastra. Saya berdoa berkali-kali tiap malam. Kalau jalan saya untuk masuk sastra maka izinkanlah. Sekali ini saya mohon.

Agustus 2009.
Saya masuk Sastra Indonesia UI. Saya berlonjak kegirangan mendengar berita ini dari teman-teman les saya. Kami bertujuh masuk UI. Uta dan Wening masuk Psikologi, Aza Akuntansi, Ninda Hukum, Uta cowok Ilmu Komputer, dan Wei masuk jurusan Biologi. Doa dan usaha kami tidak sia-sia. Dan,benar saja beberapa bulan otak kami serasa dicuci, banyak pengetahuan baru yang saya terima dengan belajar di kampus ini. Ilmu berharga tentu saja saya dapatkan dari guru terbaik di dalam hidup saya, pengalaman. Di post berikutnya akan saya jabarkan bagaimana saya berjalan dengan novel pertama saya, bagaimana saya berjuang bersamanya. Cerita ini adalah awal bagi saya untuk meraih lebih banyak lagi hal di dalam hidup saya. Akhirnya saya menjadi kaya. Kaya seperti penulis yang buku-bukunya telah dipajang di dalam toko buku. Saya merasa kaya atas semua pengalaman yang telah menjadi guru terbaik dalam hidup saya dan terus menjadi kaya karena pengalaman di depan telah siap menanti saya.