Kamis, 30 Agustus 2012

Titik Balik




2001
Setiap berjalan masuk ke dalam toko buku, saya selalu mengagumi setiap nama yang tertulis di depan setiap buku. Bukan, bukan judul buku yang saya maksud, tapi setiap nama penulisnya. Saya selalu berpikir secara sempit bahwa setiap orang yang menulis buku pastilah kaya. Kaya dalam maksud materi. Sesempit itu pikiran saya. Saya hanya mampu berandai-andai bahwa setiap penulis yang bukunya terpajang setiap hari di toko buku ini pastilah orang yang berbahagia. Menulis dan kemudian bukunya dipajang. Keluar dari toko buku, saya selalu bermimpi, andai saja buku saya bisa dipajang suatu saat nanti. Ketika itu saya masih SD dan pulang dari toko buku membawa novel Harry Potter and the Sorcerer Stone.
* * *

2004
Bertambah umur, saya menyadari bahwa saya tidak bisa selalu mempunyai uang lebih untuk membeli buku. Dari kecil saya dibiasakan untuk membeli barang yang saya inginkan sendiri oleh orangtua, termasuk handphone, scooter (dulu generasi saya menyebutnya otopet), sampai buku-buku. Saya hanya mempunyai uang lebih pada saat Lebaran, Natal, dan ulang tahun. Padahal kebutuhan untuk membaca saya lebih dari itu. Sayang di antara keluarga saya, hanya Kakek saya yang suka membaca, bahkan Kakek memiliki perpustakaan kecil di rumah keluarga besar kami di Menteng waktu itu. 
Untuk menghapus rasa kecewa saya karena tidak memiliki uang untuk membeli buku, maka saya memutar akal, setiap pulang sekolah saat saya masih SMP, bukannya bermain bersama teman-teman, saya malah pergi ke perpustakaan dan mulai melahap karya-karya milik Pramoedya Ananta Toer, Chairil Anwar, kumpulan puisi dan prosa majalah puisi Horison, Sapardi Djoko Damono, dan Isbedy Setiawan. Saya malah melewati novel-novel populer dan berkutat pada bacaan sastra yang cenderung berat. Entah mengapa saya merasa normal ketika melakukan aktivtas tersebut. Teman-teman saya pun maklum, cenderung kagum, mereka malah senang saat nama saya muncul sebagai kontributor lepas di sebuah majalah elektronik. Waktu itu saya mendapat 150 ribu rupiah untuk satu artikel di majalah. Saya bahkan masih ingat uang itu saya belikan sepatu santai berwarna biru. 

Hari demi hari selama di SMP, saya habiskan dengan membaca buku di perpustakaan sekolah, terkadang saya menulis puisi dan menulis cerpen. Saya masih ingat, saya mempunyai sebuah buku khusus yang saya isi dengan cerpen-cerpen saya. Isinya tentang pengalaman pribadi yang saya bumbui kisah fiksi agar lebih dramatis. Selesai menulis satu cerita, saya izinkan teman-teman dan guru bahasa Indonesia untuk membaca dan menilai buku saya. Sungguh senang ketika saya mendapati buku saya kembali dengan coretan pujian dan karikatur gambar dari teman-teman saya. Bahkan, guru bahasa Indonesia saya mengagumi tulisan yang saya buat, walaupun beliau bilang tulisan saya cenderung melompat-lompat, macam novel detektif, macam tulisan sastrawan ucap beliau. Beliau tersenyum dan mengatakan saya harus terus menulis. Senyuman Ibu Ani, guru bahasa Indonesia terbaik saya kala itu, mengalahkan semua rasa lelah saya. Tidak ada yang lebih indah selain senyuman Ibu Ani. Kala itu dalam dunia kecil saya, Ibu Ani adalah guru besar bahasa Indonesia yang paling saya kagumi.

* * *

2006
Saya mengalami titik balik dalam hidup saya. Saya gagal dalam tes masuk SMA St. Theresia kala itu. Dari TK sampai SMP saya habiskan dengan belajar di Santa Theresia. Saya hidup, tumbuh, bernapas, dan bermain di Santa Theresia. Ayah dan Ibu saya bilang saya berkembang lebih baik di sekolah swasta itu, bukan di sekolah negeri yang isinya anak-anak malas semua. Hidup saya hancur. Saya menangis tidak berhenti. Rasanya dunia jatuh di atas kepala saya. Saya sakit saat mengikuti psikotes ke SMA. Mungkin hal itu membuat saya tidak konsen saat mengerjakannya. Saya melepaskan teman-teman yang bertumbuh dengan saya dari TK. Mereka sudah seperti keluarga saya. Titik balik ini memengaruhi kecintaan saya juga terhadap menulis, terutama kepada dunia membaca saya.

Saya diterima sebagai siswa di SMA Negeri 1 Jakarta. Tidak jelek menurut orang-orang, malah cenderung bagus. Namun itu tidak berlaku bagi saya, semua sekolah negeri sama saja. Isinya anak kampung semua. Reputasinya jauh di bawah Santa Theresia. Saya pasti akan menghabiskan diri menjadi anak pendiam dan selalu pergi ke perpustakaan setiap hari. 

Yang pertama saya lakukan saat hari pertama MOS di sekolah ini adalah terdiam melihat kenyataan di dalam gedung sekolah. Oke, mereka semua bersih dan tidak seburuk dugaan saya, tapi tetap saja sekolah negeri jauh di bawah ekspetasi saya. Saya masih menjadi anak pendiam dan berharap hidup saya akan lebih menyenangkan dengan melihat perpustakaan sekolah ini. Tahukah kalian apa yang saya lihat? Perpustakaan sekolah ini tidak lebih baik dari perpustakaan di Santa Theresia. Jumlah bukunya tidak lebih dari 10% jumlah yang ada di perpustakaan Santa Theresia. Buku-bukunya juga hampir sumbangan dari ikatan alumni sekolah ini. Hanya sedikit yang terdapat cap sekolah. Menyedihkan, batin saya dalam hati. 

Langkah berikutnya adalah pemilihan ekskul di sekolah ini, saya bimbang untuk memilih antara Mading atau Hip Hop. Jujur saja, Hip Hop lebih menggiurkan. Dari kecil saya sudah menyukai dunia tari, suka menari sendiri dan yang paling penting adalah kakak-kakak senior di kelas Hip Hop adalah anak populer di sekolah ini. Belum seminggu saya sekolah di sini, saya sudah terpengaruh oleh gaya anak-anak di sekolah ini untuk menjadi populer. Maka, lupakan soal dunia tulis menulis. Saya mengambil jalan lain, saya mau menjadi orang lain. Saya memutuskan mengambil Hip-Hop dan berusaha menjadi populer di sekolah ini.

* * *

2008
Katakanlah saya mendapat semua yang saya inginkan dalam hidup saya di SMA ini. Populer, menjadi Kapten Hip Hop, dikenal seluruh warga sekolah, memberikan piala untuk sekolah dalam lomba dance se-DKI. Damaikah hati saya? Belum. Sampai saya bersahabat dengan sekumpulan teman dari organisasi Rohani Kristen SMA 1, mereka mebawa saya ke arah yang berbeda dalam hidup saya. Mereka yang membuat frasa titik balik menjadi berkat dalam hidup saya. Mereka yang membuka mata saya bahwa tidak semua teman di sekolah negeri adalah anak kampung dan pemalas. Bersama mereka, saya berjalan dengan rasa percaya. Di antara sahabat Rokris saya itu, adalah Keke, sahabat yang lekat dengan diri saya. sampai-sampai kami dijuluki sahabat skrotum, karena ke mana-mana kami selalu berdua. Pacar Keke juga anak Rokris sama seperti kami. Dari Keke-lah saya belajar menjadi diri saya sendiri, belajar menerima segala hal, dan mensyukuri hidup. Di SMA yang pernah saya sebut kampungan ini, saya malah mendapat sahabat layaknya saudara sendiri.

Akhir tahun 2008, yang seharusnya tahun penuh sukacita untuk merayakan segalanya di dalam hidup saya. Saya mengalami titik balik terdahsyat di dalam keluarga kami. Saya, kakak, Papa, dan Mama, diusir dari rumah kami sendiri. Rumah kami di Menteng memang telah dijual sejak enam bulan lalu. Uangnya bahkan sudah Papa terima dari pembeli rumah yang kaya raya. Sebenarnya bisa saja kami pindah sejak enam bulan lalu, tapi Papa meminta kepada pembeli rumah untuk bersabar sebentar sementara rumah kami di Cinere sedang dibangun. Lagipula saya masih bersekolah di Jakarta Pusat, Kakak masih kuliah di daerah Salemba. Sang pembeli rupanya mengiyakan keinginan Papa.

Awal Januari semuanya tidak bisa dibendung lagi. Sang pembeli tiba-tiba masuk ke rumah kami bersama istrinya, kemudian marah-marah kepada saya, kakak, dan asisten rumah tangga kami sementara Papa dan Mama masih menginap di Cinere yang belum pantas untuk dihuni. Ketika sang pembeli sudah mengancam kami untuk segera keluar dari "rumahnya", saya menangis di ruang keluarga kami. Minggu depan rumah kami harus sudah bersih. Saya masih menatap lekat rumah kami. Rumah yang menjadi saksi hidup saya selama 18 tahun. Saya mengamati setiap sudut ruangan dengan mata mengabur akibat air mata yang menumpuk di kantung mata. Teman-teman saya datang, Kina, Edo, Heni, Ipah, Pute kala itu, menghibur saya yang malam itu masih sedih harus secepatnya keluar dari rumah. Kami menghabiskan malam yang penuh hangat itu di sebuah warung makan di bilangan Menteng. Bersama sahabat-sahabat yang pernah mengisi hidup saya kala itu, masalah hanyalah serpihan debu yang hinggap di baju.

* * *

Maret 2009
Saya masih bersekolah. Malah hampir Ujian Nasional. Saat Papa bingung mencari tempat kos untuk saya sementara tinggal di Jakarta, adalah Tante saya yang bernama Bou Tuti menawari sebuah kamar kosong di bilangan Duren Sawit. Di sana, saya tinggal selama tiga bulan. Lumayan lebih dekat menuju sekolah dibanding jika saya harus menempuh perjalanan dari Cinere. Namun rupanya tinggal di Duren Sawit jauh dari kata gratis. Saya harus belajar untuk mandiri, layaknya anak yang memang tinggal indekos. Saya harus mencuci dan menyeterika baju sendiri, kadang-kadang masak sendiri, dan mengatur uang mingguan yang diberikan Mama. Lebih seringnya setiap pagi saya diantar oleh Bou dengan mobil menuju ke sekolah. Begitulah titik balik dalam hidup saya, saya kira hanya itu. Tapi ternyata belum. Ada titik balik yang belum dahsyat yang hendak saya ceritakan.

Sejak bulan Januari, saya mengambil les untuk persiapan SNMPTN. Saya belum tahu mengambil jurusan apa, tapi yang saya tahu saya harus masuk UI. Pergolakan batin dan titik balik serta keinginan untuk membahagiakan Papa dan Mama sejak melihat raut sedihnya saat tahu anak-anaknya yang harus menghadapi si pembeli rumah mengusir kami dari rumah, membuat saya bertekad dalam hati sekali ini saja untuk membahagiakan Papa dan Mama dengan berhasil lolos SNMPTN. Tuhan rupanya berkehendak lain lagi, saya mendapati enam sahabat baru di tempat les saya di Nurul Fikri. Bertujuh, kami berjuang untuk bisa masuk UI. Mereka saya panggil Uta, Wening, Wei, Ninda, Aza, dan Uta cowok. Kami saling menyemangati agar siap menghadapi SNMPTN. 

Dalam satu kesempatan saya bingung harus mengisi apa di pilihan kedua. Papa menyuruh saya untuk mengambil hukum, saya mengiyakan dengan alasan membahagiakan Papa. Tentor saya menyarankan agar mengambil Sastra Indonesia, "Nggak tahu kenapa Kakak lihat kamu punya potensi di sastra, Diego. sebaiknya kamu ambil Sastra."

Ketika mendengar ucapan tentor saya kala itu, pikiran saya terputar bersama waktu kembali ke masa SD ketika setiap kali saya diantar Papa ke toko buku demi membeli buku-buku cerita yang saya senangi, perjuangan saya sampai tidak tidur demi menyelesaikan cerita bersambung di buku tulis penuh coretan teman-teman dan kesan Ibu Ani, demi Chairul Anwar, Sapardi Djoko Damono, Pramoedya Ananta Toer, dan penyair di majalah Horison yang bersamanya saya bertumbuh di pepustakaan besar di Santa Theresia. Saya mantap mengambil sastra. Bahkan setelah ujian SNMPTN, saya berharap masuk Sastra. Saya berdoa berkali-kali tiap malam. Kalau jalan saya untuk masuk sastra maka izinkanlah. Sekali ini saya mohon.

Agustus 2009.
Saya masuk Sastra Indonesia UI. Saya berlonjak kegirangan mendengar berita ini dari teman-teman les saya. Kami bertujuh masuk UI. Uta dan Wening masuk Psikologi, Aza Akuntansi, Ninda Hukum, Uta cowok Ilmu Komputer, dan Wei masuk jurusan Biologi. Doa dan usaha kami tidak sia-sia. Dan,benar saja beberapa bulan otak kami serasa dicuci, banyak pengetahuan baru yang saya terima dengan belajar di kampus ini. Ilmu berharga tentu saja saya dapatkan dari guru terbaik di dalam hidup saya, pengalaman. Di post berikutnya akan saya jabarkan bagaimana saya berjalan dengan novel pertama saya, bagaimana saya berjuang bersamanya. Cerita ini adalah awal bagi saya untuk meraih lebih banyak lagi hal di dalam hidup saya. Akhirnya saya menjadi kaya. Kaya seperti penulis yang buku-bukunya telah dipajang di dalam toko buku. Saya merasa kaya atas semua pengalaman yang telah menjadi guru terbaik dalam hidup saya dan terus menjadi kaya karena pengalaman di depan telah siap menanti saya.

Jumat, 27 Juli 2012

172


Kalau saja beberapa di antara kami bukan teman satu jurusan, satu fakultas, satu organisasi, atau satu apa pun yang lain: kami tidak akan saling mengenal dan mendekat. Kami tidak akan pernah tahu bahwa perjalanan 45 hari ke depan akan mengubah segalanya: mengubah wajah-wajah dingin, mengubah sekat-sekat yang kami buat, mengubah program-program melebur menjadi satu ikatan persaudaraan yang kuat. Kami mungkin hanya saling melihat dengan ekor mata atau saling berbisik menanyakan siapa nama anak yang berbaju merah yang menjadi komandan pleton itu, siapa yang menyiapkan doa sebelum makan di marinir, dan sebagainya.

Kemudian beberapa dari kami mulai berinisiatif untuk membentuk ikatan yang lebih dalam satu sama lain: ketika betapa sulitnya kamu menghabiskan banyak makanan sendiri dengan waktu terbatas, seorang, dua orang, kemudian semua "teman" di dalam satu pleton mulai menjulurkan tangannya untuk membantumu menghabiskan makanannmu demi tidak mendapat hukuman dari danki. Ketika matamu yang merah dan mulai memejamkan mata barang sejenak karena kurang tidur, kepalamu mulai terantuk berkali-kali dalam posisi duduk di dalam aula marinir, beberapa "teman"-mu yang lucu akan menyegarkan hari-harimu dengan lawakannya, sebut saja Dian May, Cem, Kak Ojan, sampai Sopa. Untuk semua kerja sama yang baik, tindakan heroik yang kami coba lakukan semaksimal mungkin di Tanjung Pasir, bagaimana saya menahan tangis sebisa mungkin saat rapat skenario drama pembelaan di dalam tenda peserta pria untuk 35 teman kami yang dipanggil menghadap "atasan", saat salah seorang "teman" mengatakan untuk menggagalkan saja siapa yang tidak lolos tes kali ini, saya menahan tangis ketika seorang "teman" belum sadar bahwa kami semua berjalan pada jalan menghilangkan status "teman" ini menjadi saudara.

Jadi "teman", cobalah kamu ingat-ingat, siapa yang berjalan bersamamu menghadapi hanmars 7 kilometer mengitari separuh Cilandak; yang tidak pernah ragu untuk menghabiskan buah pear-mu yang habis digigit oleh gigi "teman" lain; yang membantu menyelamatkanmu ke pinggir lautan saat kau panik menyelesaikan sea survival di Tanjung Pasir; yang tidak segan memberimu sedikit obat vitaminnya ketika mendengar kamu mulai bersin dan terlihat pusing; yang tidak akan malu untuk memakai baju yang salah denganmu ketika semua orang memakai baju merah sementara kamu berdua hanya memakai baju biru; yang meminjamkanmu kaus kaki ketika kamu tidak membawa satu pun kaus kaki ke Tanjung Pasir yang dasar lautnya penuh dengan kerikil tajam; yang menghiburmu dengan canda tawanya saat dirimu penuh tekanan dari "atasan", PL, ataupun marinir; yang menjagamu saat kau jatuh sakit di titik pengabdian sehingga sampai kini kau bisa membaca surat ini di atas tempat tidurmu yang nyaman; dan yang paling penting adalah ketika kamu diberikan begitu banyak pelukan dan air mata yang bergulir begitu kamu berpisah dengan orang-orang yang tidak lagi kamu anggap "teman" selama ini.

Bukan lagi "teman" ketika yang ada hanya isak tangis dan tawa bahagia ketika kamu menjalani 45 hari yang mengubah hidupmu ini. Adalah "saudara"mu, 172 saudara baru yang nama-nama mereka tidak segan akan kausimpan dalam hati dan kaurapalkan dalam doa di malam hari. Kau tidak akan segan memeluk mereka dalam mimpimu dan tanpa sadar kau akan tersenyum mengingat cerita yang tidak akan berkesudahan untuk diceritakan kepada anak cucumu nantinya. 

Maka saudaraku, ketika kata terima kasih saja belum cukup untuk 45 hari yang begitu menyenangkan ini, maka kata-kata ini tidak akan pernah selesai untuk dibaca dan dituliskan kembali dengan kenangan-kenangan yang pernah kita anyam bersama dimulai dari pembekalan di auditorium FH, bertemu untuk jatuh cinta pertama di gedung PPMT, merapatkan hati di marinir, menguatkan pelukan di Tanjung Pasir, beberapa saudara terpisah ke Surabaya dengan tangis dan pelukan (selamat jalan Pahlawan Muda), melabuhkan lelah dan tawa di atas KRI Teluk Celukan Bawang, sampai merajut cerita di titik masing-masing. Then, give me a thousand sorries for my beloved brothers and sisters if your name disappear in this acknowledgment. Percayalah, bahwa kamu ada di hati kami masing-masing.

Untuk Mita, Icha, Ria, Ari, Novi, dan Fira kalian adalah cerita yang tidak akan pernah selesai kita habiskan bersama satu sampai dua malam saja, belum pernah ketika suatu hari saya bermimpi mendapat tangisan yang menjerit dari anak-anak satu pulau saat kita akan pulang.

Untuk Dzihan: the best sister I never had, K2N ini seperti berlibur denganmu. Untuk Winda, Dian, Sopa, dan Evan malam terakhir di buritan kapal yang gelap, berjanjilah apa yang kita lakukan itu hanya rahasia antarkita saja :p

Untuk Kak Ojan, Cem, Mama Asti, Azza, Uli, Clarissa, Kak Owi, Rista perempuan, Kevin, Hesty, Arga, Syahdan, tanti, Dimas, Delisa, Uung, Resti, Dwi, saya masih belum paham kalau tidak ada kalian, perjalanan ini akan hambar tapa tawa dari kalian.

Untuk Destiny's Child: Kelly "Rista" Rowland dan Michelle "Didit" Williams, akumulasi enam malam di atas KRI cukup bagi kita untuk tahu karakter masing-masing, terima kasih untuk hari-hari menyenangkan di atas kapal bersama kalian.

Untuk KM, Amel, Ayi, Andre, Adi, Yohana, Reza, Tomo, Areta, Anida, bagi saya kalian adalah teman-teman yang tidak segan membantu siapapun yang kesusahan.

Untuk Rifky, Lukman, Ba'ank, Ririn, Akbar, Zara, teman-teman pleton 3 kompi 2, bagaimana mungkin kalian mudah dilupakan, terutama untuk Lukman, sahabat yang saya temukan dengan segala kebaikan hatinya.

Untuk semua yang belum disebutkan namanya, sekali lagi percayalah bahwa kalian tidak akan mudah dilupakan. Salam dan peluk untuk 172 saudara baru.

Senin, 28 Mei 2012

Resensi Buku: Rumah di Seribu Ombak


Di Kalidukuh, Singaraja, Bali Utara, sepasang sahabat bernama Samihi Ismail dan WayanYanik bershabat dalam indahnya perbedaan mereka. Samihi, pemeluk agama Islam yang tekun beribadah, dan Wayan Yanik, pemeluk Hindu yang selalu sumarah dan taat terhadap agamanya, saling berteman akrab, berbagi cerita, merangkai pahit manisnya jalan kehidupan bersama. Mereka saling mendukung bersama, misalnya, pada saat Lebaran, Yanik ikut merayakannya bersama keluarga Samihi, sedangkan saat Nyepi, Samihi menghormatinya dengan tidak keluar dari rumah dan ikut menyepi bersama. Kemudian Yanik membantu Samihi untuk latihan sebelum lomba qiraah dimulai di kampung mereka. Qiraah adalah lomba melantunkan ayat-ayat Al-Quran dengan tembang yang merdu. Samihi adalah wakil kampung mereka dalam kompetisi Qiraah se-Bali Utara.

Cerita demi cerita yang berhubungan dengan Bali pun banyak dikupas di dalam novel ini, seperti kejadian bom Bali di Kuta, Legian, pada tahun 2002, agama Islam dan Hindu sebagai sosiologis latar agama di Singaraja, Pantai Lovina dan ikan lumba-lumba, juga masalah pelecehan seksual turis asing terhadap anak-anak lokal Bali diceritakan pula di dalam novel ini.  

Rumah di Seribu Ombak menceritakan kepada kita secara apik bagaimana persahabatan dapat dibangun di atas peliknya perbedaan. Contoh kecil perdamaian dunia dapat digambarkan lewat Samihi dan Yanik. Mimpi dan perjuangan diceritakan dengan mengalir oleh penulisnya, Erwin Arnada. Tampak betul betapa telitinya penulis melakukan riset sebelum menulis novel Rumah di Seribu Ombak ini. Intinya, buku ini ingin memberitahu kepada pembaca bahwa persahabatan dan masa depan berjalan beriringan. Sahabat adalah manusia yang mampu menghilangkan ketakutan terbesar sahabatnya dan salah satusistem pendukung terbesar bagi keberhasilan sahabatnya. 

"Sebenarnya, rahasia yang kami jaga untuk menjadi juara adalah konsentrasi dan doa." - Rumah di Seribu Ombak (halaman 330)

Arnada, Erwin. 2011. Rumah di Seribu Ombak. Jakarta: Gagas Media.

Selasa, 22 Mei 2012

Mengapa Saya Ingin Kuliah 4 Tahun, Bukannya 3,5 Tahun?

Suatu ketika saat sedang santai menjalani kuliah Spanyol bersama seorang teman saya, Dewi, saya mengajukan hal ini padanya, "Dew, abis semester ini lo udah tahu mau kerja di mana?" Teman saya hanya memandang saya sedetik kemudian ia menjawab tegas, "Gue mau kuliah lagi."

"S2, maksudnya?"

"Nggak, kuliah lagi aja, nambah SKS. Bayar lagilah sesuai jumlah SKS."

"Emang bisa kalo udah abis 144 SKS terus nambah lagi?"

"Bisa?"

"Kok?"

"Gue mau belajar lagi aja. Gapapa dong. Bukannya gue mau jadi mahasiswa abadi, gue ngerasa belum matang aja buat keluar. Ngapain punya IPK tinggi tapi nanti gue plang plongo. Ya, gue mau belajar lagi aja."

Sampai kapan pun, belajar tidak akan pernah selesai. Di mana pun kita bisa belajar, begitu pun prinsip Dewi. Bedanya, dia punya pemahaman sendiri yang bisa saya mengerti untuk menambah pelajaran lagi. Mungkin kuliah Spanyol sampai level 3 yang jatuhnya lebih murah untuk belajar di kelas reguler dibanding kursus di LBI. Sampai sekarang misteri mengapa Dewi ingin terus kuliah belum bisa saya pecahkan, mentok sampai, "Ya, mau belajar lagi aja."

Tidak ada yang mengalahkan pengalaman hidup. Bagi saya kata-kata "pengalaman adalah guru terbaik" memiliki makna yang pada kejadian sebenarnya jauh lebih berarti. Artinya, semakin banyak pengalaman berarti semakin banyak guru berharga yang kita temui. Bukan bermaksud menyinggung, tapi saya ingin sekali bertanya pada teman-teman yang kuliah 3,5 tahun tapi belum punya rencana apa pun setelah lulus nanti. "Ngapain Kak, lulus cepet-cepet ujungnya nganggur? Liburan 3 bulan di rumah bosennya udah luar biasa. Apalagi nanti lulus terus bengang bengong planga plongo."

 
Baru-baru ini ada kakak angkatan dari jurusan lain di kampus saya, lulus 3,5 tahun dengan IPK 3.8 sekian, tapi sampai sekarang belum dapat pekerjaan apa-apa. Lalu bukan berarti saya mau memahsyurkan mahasiswa yang kerjaannya organisasi melulu tapi IP-nya NASAKOM (Nasib Satu Koma) amit-amit *ketok-ketok meja*, semuanya juga harus seimbang dan dilakukan penuh tujuan. 

 
Pilih mana? Dewi, teman saya itu misalnya, mau fasih berbahasa Spanyol dulu, maka ketika lulus nanti dia mau bekerja di Kedutaan Besar Spanyol, syukur-syukur bisa ke Barcelona, Madrid, Leon, Ibiza, dan kota-kota lain di Spanyol. Keren kan kalau udah punya tujuan. Lagian saya percaya kok, Dewi di kampus juga nggak terlalu pasif, pernah ikut organisasi, kepanitiaan sekali dua kali, nggak cuma kuliah aja buat dapat IPK tinggi tapi juga punya tujuan.

Minggu, 20 Mei 2012

Resensi Buku: The Five People You Meet in Heaven



Ini kisah tentang Eddie, seorang penjaga taman bermain Ruby Pier, yang ditunggu oleh lima orang yang dengan tak sengaja berkorban bagi hidup Eddie. Di alam baka, Eddie bertemu kelima orang itu: Manusia Biru, Kapten Perang, Ruby sang pemilik Taman Bermain Ruby Pier, istrinya, Marguerite, dan yang terakhir Tala, gadis Filipina. 

Eddie meninggal saat tengah menyelamatkan seorang anak kecil di Freddys Free Fall saat wahana bermain itu seketika macet. Novel ini memberikan gambaran kepada kita bahwa hidup setiap individu berhubungan dengan hidup orang lainnya. Disadari atau tidak, kita saling berkorban bagi kehidupan orang lain dan hal itu tidak akan pernah putus. Selalu ada lima orang yang akan menunggu di alam baka tentang kehidupan di dunia. 

Yang menarik dalam The Five People You Meet in Heaven adalah ide ceritanya. Ya, ini adalah novel titik balik pertama, yang saya baca, yang terjadi di alam baka bukan di dunia. Ide ceritanya sederhana, tentang surga dalam benak pemikiran Mitch Albom yang konsep mengenai surga ia dapatkan dari pamannya. 

The Five People You Meet in Heaven mengingatkan saya pada film The Lovely Bones yang ternyata juga diangkat dari novelnya. Mengapa The Lovely Bones? Saya mengingat kedua novel ini bermakna entah ditulis pada tahun yang berdekatan atau tidak, tetapi konsep surga bagi kedua penulis ini waktu itu adalah memiliki langit berwarna-warni. Di surga dalam kedua novel ini kita juga bertemu orang-orang yang memberikan pemahaman tentang makna kehidupan. Di dunia, kita hanya melihat dunia dari sepasang mata kita, tetapi di alam baka kehidupan di dunia dilihat dari banyak sudut.

Entah karena ini novel sepanjang masa dan juga faktor terhanyut dalam proses pembacaan The Five People You Meet in Heaven saya tidak menemukan kelemahan penulis dalam novel ini.

Salah seorang teman saya mengatakan, ketika membaca novel ini ia ingin terus berbuat baik kepada orang lain. Saat saya menutup novel ini, saya kemudian mengerti mengapa teman saya mengatakan hal tersebut. Jadi, jika Anda penyuka novel self development, coming of age, dan aliran batin, sebaiknya Anda membaca novel ini. Novel ini termasuk novel yang wajib dibaca sepanjang masa. 

I give 5 out of 5 stars